— JAKARTA – Emiten Grup Bakrie, PT Darma Henwa Tbk (DEWA), pada Selasa (11/8/2026) menggelar earnings call untuk mengulas kinerja keuangan paruh pertama 2026 sekaligus memaparkan proyeksi untuk semester kedua tahun yang sama. Analisis dari Stockbit Sekuritas memberikan beberapa catatan penting dari pertemuan tersebut.

Manajemen DEWA, menurut Stockbit, menjelaskan bahwa peningkatan nilai wajar investasi saham pada kuartal kedua 2026 berkaitan dengan investasi pada PT Pendopo Energi Batubara. Kenaikan ini dipicu oleh penguatan nilai dolar Amerika Serikat terhadap rupiah sejak penilaian terakhir yang dilakukan pada 2020. Penilaian ulang ini dilakukan seiring dengan pergantian auditor perseroan, dengan jadwal penilaian berikutnya diperkirakan setiap tiga tahun.

Selain itu, terungkap bahwa DEWA telah memulai aktivitas pengeboran untuk tambang PT Sebuku Sejaka Coal pada awal Agustus 2026. Lingkup pekerjaan di tambang ini diprediksi lebih luas dibandingkan dengan proyek yang dikerjakan di anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yaitu PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal. Pekerjaan di Sebuku Sejaka Coal mencakup land clearing, pemeliharaan infrastruktur, dan blasting, selain overburden removal dan coal digging.

Stockbit Sekuritas mencatat bahwa cakupan pekerjaan yang lebih luas di tambang PT Sebuku Sejaka Coal mengimplikasikan potensi pendapatan per meter kubik (bcm) yang lebih tinggi, meskipun belum tentu serta-merta meningkatkan margin. Anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk PT Sebuku Sejaka Coal diperkirakan mencapai Rp 1 triliun. Pendanaan capex ini akan bersumber dari kombinasi utang bank konsorsium PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), serta vendor financing.

Stockbit Sekuritas mempertahankan pandangan positif untuk prospek DEWA di paruh kedua 2026. Proyeksi ini didukung oleh potensi penambahan kontrak pengerjaan di luar grup BUMI, ekspansi margin laba kotor seiring dengan proporsi pengerjaan internal yang ditargetkan mencapai 100%, serta harga batu bara yang diprediksi tetap stabil pada level tinggi.

Mengenai tarif pengerjaan, manajemen DEWA mengekspektasikan realisasi tarif yang stabil pada tahun ini untuk proyek PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal. Namun, tarif konsolidasi berpotensi mengalami sedikit peningkatan seiring dimulainya pengerjaan kontrak PT Sebuku Sejaka Coal yang diperkirakan memiliki tarif lebih tinggi. Risiko utama yang perlu diwaspadai tetap terletak pada hasil revisi kuota produksi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, yang dapat memengaruhi volume pertambangan dari klien DEWA.