DailyFX.ID — JAKARTA – PT DCI Indonesia Tbk (DCII), perusahaan yang terafiliasi dengan salah satu orang terkaya di Indonesia, Otto Toto Sugiri, mengumumkan rencana ekspansi besar-besaran dalam pembangunan fasilitas pusat data (data center). Langkah strategis ini mencakup pembangunan fasilitas baru dan penjajakan akuisisi lahan guna mengantisipasi peningkatan permintaan di masa depan.
Strategi ekspansi ini didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi kapasitas data center yang telah dikontrak oleh pelanggan eksisting, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi lonjakan permintaan yang diprediksi akan terus meningkat. Berdasarkan hasil kunjungan ke kampus data center H1 Cibitung milik DCII pada 16 September 2026, Stockbit mencatat bahwa prospek pertumbuhan permintaan data center sangat cerah, terutama seiring dengan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
DCII saat ini tengah mengembangkan tambahan kapasitas sebesar 120 megawatt (MW) di fasilitas data center H1. Laporan keuangan semester I-2026 menunjukkan bahwa pembangunan gedung JK6 dengan kapasitas 36 MW telah mencapai progres konstruksi 80%. Sementara itu, proyek JK7 dan JK8 masih berada pada tahap awal pembangunan, dengan progres masing-masing 2,48% dan 2,82%, serta nilai investasi yang telah digelontorkan mencapai Rp 90 miliar untuk JK7 dan Rp 23 miliar untuk JK8.
Manajemen DCII memproyeksikan bahwa mayoritas pelanggan baru di masa mendatang akan berasal dari sektor-sektor yang berkaitan erat dengan AI. Pelanggan ini akan membutuhkan teknologi graphics processing unit (GPU) tercanggih untuk mendukung kebutuhan komputasi mereka yang intensif.
Dari sisi pasar, data dari Structure Research yang dikutip oleh Stockbit memperkirakan bahwa kapasitas kolokasi data center nasional akan mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai 2 Gigawatt (GW) pada tahun 2028. Angka ini merupakan lompatan besar dibandingkan kapasitas tahun 2025 yang diperkirakan sekitar 380 MW. Pertumbuhan agresif ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan dari perusahaan hyperscalers asal Tiongkok, serta pemain global seperti Firmus dan CoreWeave yang telah menyatakan niat untuk berekspansi ke pasar Indonesia.
Menurut Stockbit, Indonesia menawarkan keunggulan kompetitif yang signifikan. Ketersediaan listrik dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, serta didukung oleh operator data center yang memiliki rekam jejak operasional yang terbukti baik, menjadi faktor penarik utama. Dalam model bisnis DCII, biaya listrik merupakan komponen pengeluaran terbesar. Laporan keuangan semester I-2026 mencatat bahwa biaya listrik mencapai Rp 303 miliar, atau sekitar 37% dari total beban pokok pendapatan perusahaan.
Ikuti DailyFX.ID
