DailyFX.ID — Militer Ukraina dilaporkan terus meningkatkan serangan udara jarak jauh yang secara sistematis melemahkan pertahanan udara di sekitar istana mewah Presiden Rusia Vladimir Putin yang berlokasi di Gelendzhik, dekat Laut Hitam. Keberhasilan ini membuat kediaman senilai 1 miliar Poundsterling atau sekitar Rp 20 triliun tersebut kini rentan tanpa perlindungan optimal.
Rangkaian serangan di wilayah Gelendzhik dimulai pada 7 Agustus 2026 dengan dilumpuhkannya sistem perang elektronik Volna Kupol Garant, yang berfungsi mengganggu sinyal komunikasi satelit Starlink. Laporan dari DailyMail pada Selasa (11/8/2026) menyebutkan, dua hari berselang, tepatnya 9 Agustus 2026, drone Ukraina berhasil menghantam sistem rudal antipesawat S-400. Sistem pertahanan ini berjarak sekitar 19 kilometer dari kompleks istana mewah tersebut.
Analis militer Yan Matveyev mengonfirmasi bahwa hancurnya sistem pengacak sinyal membuka jalan bagi drone Ukraina untuk menyerang sistem S-400. Sebelumnya, sistem ini sempat digunakan Rusia untuk meluncurkan enam rudal ke wilayah Ukraina. Komandan Pasukan Sistem Nirawak Ukraina, Mayor Robert Brovdi, melaporkan bahwa peluncur rudal tersebut mengalami kebakaran hebat selama tiga jam pasca-serangan.
Istana yang memiliki luas 17.700 meter persegi ini pertama kali menarik perhatian publik global pada tahun 2021 melalui investigasi mendiang tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Kompleks supermewah ini dilengkapi berbagai fasilitas, termasuk amfiteater, helipad, gereja, kasino, arena es, kebun anggur, serta bunker 16 lantai yang dirancang tahan terhadap serangan nuklir, tersembunyi di dalam tebing.
Drone Hantam Fasilitas Industri dan Energi Rusia
Gelombang serangan drone Ukraina tidak hanya menargetkan area di sekitar kediaman Kremlin, tetapi juga menghantam berbagai objek vital dan pusat industri di seluruh wilayah Rusia secara bersamaan:
- Pusat Logistik Voronezh: Kompleks pergudangan milik lokapasar Wildberries seluas 156 ribu meter persegi dilaporkan hangus terbakar setelah dihantam drone.
- Kilang Minyak Orsk: Drone dilaporkan melintasi jarak hampir 1.600 kilometer menuju wilayah selatan dekat perbatasan Kazakhstan untuk membakar kilang minyak Orsknefteorgsintez.
- Pabrik Senjata Strategis: Di kota yang sama, drone menargetkan pabrik komponen artileri dan peluncur roket majemuk (MLRS) seperti sistem Grad, Uragan, dan Smerch.
- Kebakaran di Wilayah Timur & Siberia: Kebakaran misterius juga terjadi di kilang minyak Rosneft di Komsomolsk-on-Amur (sekitar 6.400 km dari Ukraina) serta pembangkit listrik di Angarsk, Siberia.
Eskalasi serangan ini bertepatan dengan kunjungan Putin ke Novosibirsk, di tengah pengetatan politik domestik yang termasuk pemblokiran partai pro-damai Yabloko dari pemilu mendatang. Sebagai balasan, pihak Rusia melancarkan serangan rudal balistik dan bom udara ke wilayah Zaporizhzhia serta Dnipropetrovsk di Ukraina, yang menyebabkan sedikitnya sembilan warga sipil tewas dan puluhan lainnya terluka.
Sejak konflik bersenjata berskala penuh pecah pada Februari 2022, strategi militer Ukraina telah bergeser secara signifikan. Pergeseran ini ditandai dengan evolusi dari sekadar pertahanan darat di garis depan (frontline) menuju perang asimetris berjangkauan jauh.
Dengan mengembangkan teknologi drone mandiri, Kyiv secara intensif menargetkan infrastruktur energi, kilang minyak, pusat logistik, dan fasilitas manufaktur militer di dalam wilayah teritorial Rusia. Tujuannya adalah untuk melumpuhkan mesin perang serta fondasi ekonomi Kremlin.
Penargetan sistem pertahanan udara bernilai tinggi di sekitar aset simbolis, seperti kompleks kediaman elite di Gelendzhik, bertujuan untuk merusak dominasi pertahanan udara Rusia sekaligus memberikan tekanan psikologis dan politik kepada kepemimpinan di Moskow. Strategi ini menunjukkan kemampuan Ukraina untuk menjangkau target strategis hingga ribuan kilometer ke dalam wilayah Rusia, membuktikan bahwa fasilitas yang dijaga paling ketat pun tidak lagi sepenuhnya terisolasi dari dampak peperangan.
Ikuti DailyFX.ID
