DailyFX.ID — PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatat kinerja keuangan yang solid pada paruh pertama tahun 2026, ditopang oleh kontribusi kuat dari aset minyak dan gas bumi yang telah berproduksi. Pertumbuhan laba bersih mencapai 27% pada periode ini, menunjukkan daya ungkit signifikan dari portofolio aset perseroan.
Kinerja positif ini juga tercermin dari peningkatan penjualan neto sebesar 19% menjadi US$283,37 juta atau sekitar Rp5,04 triliun, serta pertumbuhan EBITDA sebesar 25%. Meskipun beban pokok penjualan mengalami kenaikan 5,57% menjadi US$163,22 juta, laba bruto perseroan melonjak 42,18% menjadi US$120,15 juta.
Direktur Utama Energi Mega Persada, Syailendra Bakrie, menyatakan bahwa perseroan membukukan kinerja keuangan yang solid berkat kontribusi berkelanjutan dari portofolio aset yang telah berproduksi dan peningkatan pendapatan. “Di masa mendatang, kami akan tetap fokus untuk mengoptimalkan aset yang sudah ada, melanjutkan berbagai inisiatif pertumbuhan, serta menjaga pelaksanaan secara disiplin untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar Syailendra dalam keterangan resminya, Selasa (18/8/2026).
Sebagian besar pendapatan ENRG, sekitar 95,18% atau US$269,73 juta, masih berasal dari penjualan minyak dan gas bumi. Kontributor utama berasal dari Blok Malacca Strait (US$71,56 juta), Kangean (US$45,72 juta), Bentu (US$70,35 juta), Sengkang (US$35,14 juta), Siak (US$28,95 juta), dan Kampar (US$17,34 juta).
Laba neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 27% dari US$35,72 juta menjadi US$45,23 juta. Syailendra menekankan pendekatan prudent dalam pengelolaan sumber daya keuangan dan kebutuhan pendanaan perusahaan, dengan fokus pada dukungan kegiatan usaha yang sedang berjalan sambil menjaga fleksibilitas keuangan.
Blok Gebang Menjadi Katalis Pertumbuhan
Prospek pertumbuhan ENRG ke depan juga didukung oleh Blok Gebang yang berlokasi di Langkat, Sumatra Utara. Blok ini ditargetkan mulai berproduksi pada semester I-2027 dengan volume awal sekitar 40 juta kaki kubik gas per hari (Mmscfd), yang setara dengan 15% dari total produksi gas ENRG saat ini. Produksi Blok Gebang diproyeksikan meningkat menjadi 100 Mmscfd pada awal 2030, atau sekitar separuh dari total produksi gas perseroan.
Kepala Investor Relations PT Energi Mega Persada Tbk, Herwin W. Hidayat, menjelaskan bahwa Blok Gebang merupakan katalis positif yang signifikan. Selain itu, ENRG juga memiliki katalis dari penemuan cadangan migas baru pada akhir 2025 dan awal 2026 di Blok Bentu, Selat Malaka, South CPP, dan Blok Sengkang, meskipun temuan ini masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Portofolio Aset dan Strategi Akuisisi
Saat ini, ENRG mengelola 13 aset blok migas, terdiri dari 12 aset di Indonesia dan satu di Mozambik. Sembilan aset telah berstatus produksi komersial, sementara sisanya masih dalam tahap pengembangan atau eksplorasi.
Untuk menjaga pertumbuhan, ENRG memprioritaskan akuisisi aset produktif dibandingkan membangun atau mengeksplorasi aset dari nol. Strategi ini diadopsi sejak 2024 melalui akuisisi Blok Siak dan Kampar, serta peningkatan kepemilikan di Blok Sengkang menjadi 100%.
ENRG juga menjalin kemitraan strategis dengan Japex, perusahaan BUMN asal Jepang, pada 2025 untuk mengoperasikan dan memonetisasi Blok Gebang. Kepemilikan Blok Gebang kini terbagi 50%-50% antara ENRG dan Japex. Japex juga memberikan pinjaman kepada perusahaan patungan ENRG-Japex senilai sekitar US$110 juta.
Wakil Direktur Utama dan CFO Energi Mega Persada, Edoardus Ardianto, menyatakan bahwa dalam 3-5 tahun ke depan, ENRG akan fokus pada pertumbuhan organik, terutama untuk aset gas yang sudah dan akan berproduksi. Produksi gas diproyeksikan menyumbang lebih dari 70% total produksi dalam periode tersebut. Peluang merger dan akuisisi, termasuk blok minyak, tetap terbuka sepanjang memenuhi kriteria investasi.
Pendanaan Melalui Penerbitan Obligasi
Untuk memperkuat pendanaan, ENRG menerbitkan obligasi senilai Rp250 miliar sebagai bagian dari Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan I dengan target dana hingga Rp4 triliun. Obligasi ini memperoleh peringkat idA+ dari Pefindo dan telah dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 29 Juli 2026.
Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja anak usaha, mencakup 52,69% untuk Kangean Energy Indonesia Ltd, 21,78% untuk Energy Equity Epic (Sengkang) Pty. Ltd, dan 25,53% untuk PT EMP Tunas Energi.
Ikuti DailyFX.ID
