— PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan menambah enam armada baru pada tahun 2026 untuk memperkuat operasionalnya. Langkah ekspansi ini dilakukan setelah perseroan menerima penyertaan modal sebesar Rp23,6 triliun. Keenam pesawat baru tersebut terdiri dari empat unit B737-800 yang dijadwalkan tiba pada kuartal II-2026 dan dua unit B737-8 pada akhir 2026.

Bersamaan dengan penambahan armada baru, Garuda Indonesia juga akan mengembalikan satu pesawat A330-200 kepada lessor pada kuartal II-2026 dan mempensiunkan empat pesawat A330-300 pada akhir tahun. Dengan demikian, total armada Garuda Indonesia pada akhir 2026 diproyeksikan menjadi 79 unit, naik satu dari 78 unit per Maret 2026. Ekspansi ini menandai pergeseran fokus perseroan ke pesawat berbadan kecil (narrow body), yang akan mendominasi dengan 49 unit pada akhir 2026, naik dari 45 unit pada Maret 2026. Sementara itu, armada berbadan besar (wide body) akan berkurang menjadi 12 unit dari 16 unit.

Pengamat Bisnis Penerbangan Gatot Rahardjo menilai penambahan armada narrow body oleh Garuda cukup wajar mengingat tren rute penerbangan internasional regional ASEAN yang sedang meningkat. “Jadi, pasar Garuda masih terbuka,” ujarnya.

Namun, data menunjukkan adanya penurunan jumlah penumpang Garuda sebesar 4,89% pada kuartal I-2026, dengan passenger yield sebesar 0,99%. Seat load factor (SLF) juga terkoreksi 1,17 poin menjadi 77,71%, dan frekuensi penerbangan menyusut 1,87% menjadi 17.901.

Sementara itu, Citilink, entitas anak Garuda, menunjukkan kinerja yang berbeda. Maskapai ini membukukan kenaikan jumlah penumpang sebesar 19% menjadi 2,95 juta pada kuartal I-2026, dengan passenger yield 6,67%. SLF menguat 2,66 poin menjadi 79,88%, dan frekuensi penerbangan naik 13,59% menjadi 20.774.

Meskipun kinerja Citilink positif, manajemen Garuda tidak menyiapkan penambahan armada baru untuknya pada tahun 2026. Citilink justru akan mengembalikan satu pesawat A320-200 pada semester I-2026 dan mempensiunkan enam pesawat pada akhir tahun. Akibatnya, jumlah armada Citilink akan berkurang dari 64 menjadi 57 unit.

Gatot Rahardjo menjelaskan bahwa pasar Garuda melayani segmen menengah atas dan bisnis yang cenderung stabil, sementara Citilink beroperasi di pasar Low Cost Carrier (LCC) yang sangat kompetitif dan sensitif terhadap harga. Ia berpendapat bahwa penambahan armada bagi Citilink sebenarnya perlu dilakukan, terutama jika ada rencana membuka rute internasional. “Jadi, mungkin manajemen Citilink wait and see. Sebab, kondisi biaya operasional masih tinggi (harga avtur, kurs USD) dan memang LCC akan terdampak lantaran harga tiket lebih rendah sementara biaya operasional hampir sama dan persaingan tinggi,” tutur Gatot.

Kepala Riset KISI Sekuritas Muhammad Wafi menambahkan, prioritas penambahan armada pada Garuda kemungkinan dipengaruhi oleh skenario bergabungnya Pelita Air ke dalam ekosistem grup. “Jika skenario Pelita bergabung ke holding terjadi, restrukturisasi portofolio brand mungkin butuh kejelasan strategis siapa fokus di segmen mana. Garuda menjadi prioritas bisa jadi bagian dari tahapan restrukturisasi yang lebih besar, di mana peran Citilink didefinisikan ulang setelah Pelita masuk,” ujar Wafi.

Wafi menekankan pentingnya Garuda Indonesia Group menangkap segmen pasar LCC yang terus bertumbuh. Jika tidak, pangsa pasar grup terancam stagnan meskipun margin per unit membaik. “Ini merupakan keputusan strategis yang berpotensi besar, tapi hanya akan berhasil kalau dieksekusi dengan tepat,” tutupnya.