DailyFX.ID — Kebiasaan minum kopi di kalangan Generasi Z (Gen Z) telah berkembang pesat, menjadikannya lebih dari sekadar minuman harian. Survei Jakpat menunjukkan 66% Gen Z mengonsumsi kopi setiap hari. Di Indonesia, fenomena ini melahirkan 461.991 titik usaha kopi, menjadikannya negara dengan jumlah kedai kopi terbanyak di dunia. Dalam konteks ini, kedai kopi berpotensi menjadi gerbang investasi sektor riil, asalkan dijalankan dengan strategi yang matang.
Kopi kini menjadi minuman favorit generasi muda untuk menemani berbagai aktivitas, mulai dari mengerjakan tugas kuliah hingga rapat dadakan. Survei Jakpat pada 2024 terhadap 1.008 responden mengungkapkan bahwa 66% Gen Z minum kopi setiap hari. Selain itu, 45% dari seluruh responden lintas generasi menjadikan momen minum kopi sebagai ajang bersosialisasi. Temuan dari survei GoodStats pada Oktober 2024 juga menambahkan bahwa 71% responden lebih memilih membeli kopi di luar daripada menyeduhnya sendiri di rumah.
Fenomena konsumsi kopi yang tinggi ini telah memicu pertumbuhan pesat dalam jumlah usaha kopi. Data dari Point of Interest (POI) global per November 2025 mencatat Indonesia memiliki 461.991 titik usaha kopi, jauh melampaui China yang memiliki sekitar 190 ribu dan Amerika Serikat dengan sekitar 145 ribu. Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) mengklarifikasi bahwa angka ini mencakup berbagai jenis usaha, mulai dari kafe modern hingga warung kopi sederhana, sehingga belum tentu semuanya masih beroperasi aktif. Generasi muda juga turut berperan dalam perkembangan ini melalui konsep seperti street coffee dan coffee to-go.
Industri kopi nasional juga menunjukkan pertumbuhan signifikan dari sisi produksi. Kementerian Perindustrian mencatat produksi kopi olahan nasional mencapai 1,4 juta ton pada 2024, dengan volume ekspor sebesar 196 ribu ton senilai US$ 661 juta. International Coffee Organization (ICO) melaporkan bahwa konsumsi domestik kopi di Indonesia telah meningkat 50,02% dalam sepuluh tahun terakhir.
Pada titik inilah, kebiasaan minum kopi dapat bertransformasi dari sekadar pengeluaran menjadi peluang investasi sektor riil. Menurut OCBC NISP, investasi sektor riil melibatkan penanaman modal pada aset berwujud nyata, seperti properti, emas, atau unit usaha, berbeda dengan instrumen tak berwujud seperti saham dan reksa dana. Kedai kopi, beserta seluruh asetnya seperti peralatan, bahan baku, dan tempat usaha, termasuk dalam kategori investasi sektor riil.
Pertanyaannya, bagaimana cara memulai bisnis ini tanpa sekadar mengikuti tren sesaat? Dua pelaku usaha, meskipun bukan dari kalangan Gen Z, memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda yang tengah mempertimbangkan langkah serupa.
Pelajaran 1: Kenali Produk dan Selera Pasar
Pelajaran pertama datang dari Fertina, pemilik D’Coffee. Latar belakangnya jauh dari dunia kopi; ia pernah berkarir sebagai beauty advisor produk kosmetik, pekerja event, dan hampir sepuluh tahun bekerja di apotek. Namun, pengalaman bekerja paruh waktu selama enam bulan di sebuah kedai kopi mengubah arah hidupnya. “Saya sudah capek kerja kantoran,” ujarnya.
Fertina belajar secara otodidak mengenai berbagai jenis biji kopi. Ia membandingkan rasa seduhan kopi hasil racikannya dengan merek lain hingga menemukan karakter yang sesuai dengan selera pelanggan. Hasilnya adalah house blend yang terdiri dari 70% robusta Temanggung dan 30% arabika Gayo Aceh. Menurut Fertina, perpaduan ini menghasilkan rasa yang lebih creamy dan gurih dibandingkan kopi lain yang cenderung bold.
Pelanggan seperti Roy sangat menghargai prosesnya, di mana biji kopi terlihat langsung dan diracik di depan mata. Roy, yang hampir setiap sore singgah untuk bekerja, sering memesan lebih dari satu gelas, dengan kopi gula aren sebagai menu favoritnya. Ini menunjukkan bahwa modal investasi baru dapat bekerja optimal jika pemiliknya memahami produk dan mampu membaca selera pasar.
Pelajaran 2: Jadikan Kopi Penopang Arus Kas, Jangan Buru-buru Ekspansi
Pelajaran kedua berasal dari Thio Siujinata, pengelola Craftote Gallery & Coffee di Tomang, Jakarta Barat. Tempat ini merupakan galeri kerajinan anyaman eceng gondok dan bambu yang berbagi ruang dengan kedai kopi. Galeri tersebut dibuka pada 1 Mei 2021, di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi. Kopi ia jadikan penopang arus kas.
“Galeri itu uang besar, coffee shop itu uang cepat,” kata Thio. Pengunjung yang datang untuk menikmati kopi secara perlahan mulai mengenal produk anyaman yang dipajang.
Langkah Thio tidak selalu mulus. Ia sempat memperbanyak jumlah kedai kopi, namun dua di antaranya terpaksa ditutup karena sistem usahanya belum teruji. Thio kemudian mengikuti pelatihan literasi keuangan dan penyusunan SOP di Rumah BUMN, yang membantunya memulihkan usahanya secara bertahap.
Kini, produk Craftote telah masuk dalam jaringan Pendopo milik grup Kawan Lama, induk Ace Hardware, setelah pihak Pendopo melihat langsung produknya di pameran Inacraft dan Kriya Nusa. Barang-barang tersebut dipasok oleh asosiasi perajin dari Bantul, Yogyakarta, hingga Cirebon. Hal ini menunjukkan bahwa kopi dapat berfungsi sebagai mesin kas bagi usaha lain, namun menambah gerai sebelum sistem operasional siap justru dapat merugikan.
Pelajaran 3: Hitung Risiko dan Mulai dari Skala Kecil
Pelajaran ketiga berkaitan dengan pengelolaan risiko. Persaingan yang ketat di industri kopi dan fluktuasi harga biji kopi dapat mengganggu stabilitas usaha. Oleh karena itu, Gen Z yang tertarik berbisnis kopi disarankan untuk memulai dari skala kecil dengan modal yang benar-benar terjangkau, bukan langsung menyewa tempat yang luas atau membuka gerai besar. Hasilnya pun tidak didapat secara instan.
Biaya sewa dan operasional bulanan terus berjalan, sementara pelanggan tetap membutuhkan waktu untuk terbentuk. Semua aspek ini perlu dihitung sejak awal.
Belajar dari pelaku usaha yang lebih berpengalaman juga sangat membantu. Fertina mengasah produknya melalui proses coba-coba, sementara Thio memperbaiki usahanya melalui pelatihan dan pendampingan. Mencari mentor atau bergabung dengan komunitas pelaku usaha kopi dapat mempercepat proses pembelajaran sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas.
Dengan demikian, kecintaan Gen Z pada kopi tidak harus berhenti pada gaya hidup konsumtif semata. Melalui riset yang matang dan kesabaran, kebiasaan nongkrong dapat menjadi pintu masuk ke investasi sektor riil yang memiliki aset berwujud, jauh dari sekadar tren instan di media sosial.
Ikuti DailyFX.ID
