— Harga kontrak minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Penurunan ini mengakhiri tren kenaikan yang telah berlangsung selama lima sesi perdagangan berturut-turut.

Beberapa faktor utama yang mendorong pelemahan harga CPO di antaranya adalah aksi ambil untung oleh pelaku pasar setelah kenaikan sebelumnya, penurunan harga minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai, serta peningkatan stok minyak sawit di Malaysia.

Berdasarkan data dari Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman September 2026 tercatat jatuh 71 Ringgit Malaysia, menjadi 4.720 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 juga mengalami penurunan tajam sebesar 75 Ringgit Malaysia, ditutup pada 4.859 Ringgit Malaysia per ton.

Lebih lanjut, kontrak November 2026 terpangkas 72 Ringgit Malaysia menjadi 4.946 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Desember 2026 ambles 64 Ringgit Malaysia ke level 5.013 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Januari 2027 turun 54 Ringgit Malaysia menjadi 5.064 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Februari 2027 terkoreksi 42 Ringgit Malaysia ke posisi 5.099 Ringgit Malaysia per ton.

Harga minyak sawit berjangka Malaysia saat ini berada di bawah level 5.000 Ringgit Malaysia per ton, menjauh dari puncak yang dicapai sejak Desember 2024. Pelemahan ini juga dipengaruhi oleh penurunan harga minyak kedelai di bursa Dalian dan Chicago, yang mengurangi daya tarik minyak nabati sebagai produk substitusi.

Ekspor CPO Melemah dan Stok Meningkat

Tekanan pada harga CPO semakin terasa setelah data menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir pada Juli 2026. Survei perusahaan inspeksi kargo juga mengindikasikan penurunan pengiriman minyak sawit Malaysia pada periode 1-20 Agustus, berkisar antara 5,5% hingga 13,2% dibandingkan periode yang sama pada Juli, menandakan momentum ekspor yang lebih lemah.

Meskipun demikian, pelemahan harga CPO sedikit tertahan oleh pelemahan nilai tukar Ringgit Malaysia. Di sisi lain, pembeli dari Indonesia dilaporkan meningkatkan pembelian menjelang implementasi penuh mandat biodiesel B50 pada Oktober 2026. Kebijakan ini mewajibkan penggunaan campuran biodiesel berbasis minyak sawit yang lebih tinggi dalam bahan bakar diesel, yang berpotensi meningkatkan konsumsi CPO domestik dan memberikan sokongan terhadap harga.

Selain itu, kekhawatiran mengenai potensi dampak fenomena El Niño terhadap kondisi kering di Indonesia dan Malaysia juga memberikan dukungan terhadap harga CPO. Kondisi cuaca yang lebih kering berisiko mengganggu produksi dan memperketat pasokan minyak sawit di masa mendatang.

Pergerakan harga CPO selanjutnya diperkirakan akan dipengaruhi oleh keseimbangan antara aksi ambil untung dan tekanan dari sisi pasokan, dengan prospek permintaan dari program biodiesel Indonesia serta risiko gangguan produksi akibat faktor cuaca.