— Tim Search and Rescue (SAR) gabungan melanjutkan upaya pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak bersama sebuah speedboat di perairan Selat Sunda, Banten. Memasuki hari kedelapan pada Selasa (15/9/2026), fokus penyisiran dipersempit menjadi 3.962 mil laut persegi yang terbagi ke dalam lima sektor utama.

Penyempitan area ini bertujuan meningkatkan efektivitas dan konsentrasi penyisiran armada laut di titik-titik yang berpotensi tinggi menjadi lokasi keberadaan objek.

Fokus 5 Sektor dan Pengerahan Ratusan Personel

Kepala Subseksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Banten Rizky Dwianto menjelaskan, operasi hari kedelapan mengerahkan sedikitnya 647 personel gabungan serta 20 unit alat utama sistem senjata (alut) armada laut. Dari total kekuatan tersebut, 325 personel bertugas langsung melakukan pencarian di laut, sementara 322 personel berada di posko darat untuk koordinasi dan logistik.

Unsur laut terdiri atas kombinasi armada Basarnas (tiga KN SAR dan dua Rigid Inflatable Boat / RIB), TNI Angkatan Laut (empat KRI, dua KAL, dan satu RIB), serta delapan unit kapal Polairud. Pembagian area penyisiran laut hari kedelapan meliputi lima sektor: Sektor A (1.026 mil laut persegi) disisir oleh KRI Gilimanuk dan KRI Luser; Sektor B (780 mil laut persegi) disisir oleh KN SAR Antasena dan KP Sanjaya; Sektor C (825 mil laut persegi) disisir oleh KN SAR Tetuka, KRI Lempu, dan KRI Kerambit; Sektor D (872 mil laut persegi) disisir oleh KN SAR Basudewa, RIB 02 Lampung, KAL Pahawang, dan KAL Anyer; serta Sektor F (459 mil laut persegi) disisir oleh sembilan armada kecil termasuk RIB 02 Banten, RIB Pecang, dan jajaran kapal Polairud (KP 2016, KP 2013, KP 1010, KP 1012, KP 1007, KP 1003, dan KP WRC Erhan).

Rizky menegaskan pengurangan luas area pencarian dari semula sekitar 6.600 mil laut persegi menjadi 3.962 mil laut persegi berpatokan pada data arah arus laut, pergerakan gelombang dari BMKG, serta analisis temuan barang pada sektor pencarian sebelumnya. Basarnas juga berkoordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu untuk mengantisipasi potensi pergerakan objek yang terbawa arus ke arah utara.

Penyisiran Darat di Pulau-Pulau Terpencil Masih Nihil

Selain penyisiran permukaan laut, tim SAR gabungan telah melangsungkan pencarian darat di sejumlah pulau yang diperkirakan bisa menjadi lokasi penyandaran darurat bagi korban. Tim telah menyisir seluruh daratan Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang, serta kawasan pesisir dari Carita hingga Pantai Anyer. Namun hingga hari kedelapan, penyisiran darat tersebut belum membuahkan hasil atau menemukan tanda-tanda keberadaan speedboat maupun kedelapan korban.

Sementara itu, pencarian melalui udara menggunakan helikopter HR 3604 dari ATS Bogor berada dalam posisi siaga (standby). Penyisiran udara yang dilakukan pada hari-hari sebelumnya belum menemukan indikasi keberadaan kapal, di mana objek terpal oranye yang sempat terlihat dari udara dipastikan bukan milik armada yang dicari.

Terkait opsi penyelaman, Basarnas mengonfirmasi belum melangsungkan penyelaman secara masif. Langkah ini terkendala oleh luasnya area cakupan serta belum diketahuinya titik koordinat pasti saat kapal mengalami hilang kontak.

Selat Sunda merupakan salah satu jalur pelayaran paling sibuk sekaligus ekstrem di Indonesia karena menghubungkan Laut Jawa dengan Samudra Hindia. Wilayah perairan ini dikenal memiliki karakteristik arus laut yang kuat, pola cuaca yang mudah berubah, serta dinamika gelombang tinggi akibat penyempitan selat dan pengaruh samudra lepas.

Insiden hilangnya speedboat yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal ini menyoroti tingginya risiko aktivitas pelayaran di kawasan tersebut, khususnya bagi kapal-kapal berukuran kecil. Kerja wartawan lapangan dalam meliput isu-isu bahari, pulau-pulau terluar, maupun kawasan konservasi sering kali menuntut mobilisasi menggunakan transportasi laut lokal yang rentan terhadap cuaca buruk.

Tantangan pencarian di Selat Sunda makin kompleks karena pergerakan arus yang cepat dapat menggeser lokasi objek hingga puluhan mil laut dalam hitungan jam. Oleh karena itu, sinergi lintas lembaga antara Basarnas, TNI AL, Polairud, BMKG, serta masyarakat nelayan menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan operasi pencarian dan pertolongan di wilayah perairan ini.