— JAKARTA – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) terus mendorong industri mebel nasional untuk meningkatkan nilai tambah dan produktivitas. Tujuannya agar industri ini tidak lagi hanya bergantung pada produk berbiaya murah, melainkan mampu bersaing di pasar global dengan produk bernilai tinggi.

Ketua Umum Himki Abdul Sobur menyampaikan hal tersebut dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 Himki di Bali, Senin (14/9/2026). Menurutnya, penguatan pada aspek desain, teknologi, keberlanjutan, serta akses pasar menjadi kunci utama untuk membawa industri mebel Indonesia ke level selanjutnya di kancah internasional.

Indonesia dinilai memiliki modal yang kuat untuk menjadi salah satu pusat industri mebel dan kerajinan dunia. Kekayaan bahan baku, keterampilan para perajin, keragaman budaya, kemampuan desain, hingga basis produksi yang tersebar di berbagai daerah menjadi keunggulan. Namun, potensi ini perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas dan nilai tambah.

“Indonesia tidak cukup hanya dikenal sebagai pemasok bahan baku atau produk berbiaya murah. Kita harus naik kelas menjadi bangsa pencipta produk bernilai tambah tinggi, berkarakter Indonesia, berkelanjutan, dan diperhitungkan di pasar dunia,” ujar Sobur dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (14/9/2026).

Peningkatan nilai tambah, lanjut Sobur, perlu dilakukan melalui pemanfaatan teknologi, penguatan desain, peningkatan produktivitas, serta perluasan akses pasar. Langkah-langkah ini semakin krusial di tengah perubahan struktur industri global yang sangat cepat.

Himki mengidentifikasi sejumlah tantangan yang dihadapi industri mebel nasional saat ini. Dinamika geopolitik, perubahan rantai pasok global, tuntutan keberlanjutan, perkembangan teknologi, perubahan perilaku konsumen, hingga persaingan yang semakin ketat menjadi faktor yang perlu diatasi.

Ketua Steering Committee (SC) Munas ke-4 Himki, A. Kuswidiarso, menekankan bahwa perubahan lingkungan usaha ini menuntut industri mebel nasional untuk menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif. “Munas ini merupakan momentum penting untuk melakukan refleksi atas perjalanan organisasi, mengevaluasi capaian dan tantangan yang telah kita lalui, sekaligus menentukan arah strategis Himki untuk tiga tahun ke depan,” ucapnya.

Dorong Produk Bernilai Tinggi

Kuswidiarso menjelaskan, Munas tidak hanya berfungsi sebagai forum regenerasi organisasi, tetapi juga sebagai ruang untuk merumuskan program kerja dan rekomendasi kebijakan strategis bagi pengembangan industri mebel dan kerajinan nasional. Strategi pengembangan ke depan harus mampu menjawab perubahan pasar global, termasuk tuntutan konsumen terhadap produk yang lebih berkelanjutan dan memiliki identitas kuat.

Sobur menambahkan, kekuatan desain dan kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi pembeda produk nasional di pasar internasional. Namun, keunggulan ini harus diterjemahkan menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Dengan demikian, peningkatan daya saing tidak hanya melalui efisiensi biaya produksi, tetapi juga melalui inovasi, desain, teknologi, dan kemampuan menciptakan produk bernilai tambah.

Hadapi Perubahan Industri Global

Munas ke-4 Himki yang berlangsung pada 14-16 September 2026 mengusung tema “Transformasi Bersama Menuju Indonesia sebagai Pusat Mebel dan Kerajinan Dunia”. Forum tiga tahunan ini membahas laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode 2023-2026, tata kelola dan kelembagaan, program kerja periode berikutnya, serta regenerasi kepemimpinan.

Hasil Munas diharapkan dapat memperkuat posisi industri mebel dan kerajinan nasional dalam menghadapi perubahan industri global. Ketua Organizing Committee (OC) Munas ke-4 Himki, Hani Duarsa, menerangkan bahwa pelaksanaan Munas di Bali diharapkan menghasilkan program kerja yang dapat menjawab kebutuhan pelaku industri.

Pemilihan Bali sebagai lokasi Munas didasari oleh ketersediaan fasilitas pertemuan, akomodasi, serta infrastruktur pariwisata yang mendukung kegiatan berskala nasional maupun internasional. Sobur menutup dengan menegaskan bahwa regenerasi organisasi harus berjalan seiring dengan kesinambungan program pengembangan industri. “Munas bukan sekadar pergantian kepengurusan. Munas adalah ruang untuk memastikan Himki semakin kuat, profesional, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan nyata para pelaku industri,” tegasnya.