— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level 6.480 pada sesi I perdagangan Selasa (18/8/2026), menandai pencapaian tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Penguatan signifikan ini ditopang oleh optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia dan sambutan positif pasar terhadap Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

IHSG tercatat menguat 80,68 poin atau 1,26% ke level 6.482 hingga akhir sesi I. Level ini merupakan yang tertinggi sejak 20 Mei 2026, terjadi setelah pasar kembali beraktivitas pasca libur Hari Kemerdekaan.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai bahwa sentimen domestik menjadi pilar utama penguatan IHSG. Pasar menyambut baik RAPBN 2027 yang dianggap mencerminkan optimisme pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi di tengah gejolak ketidakpastian global.

“Pasar berharap pemerintah dapat menjaga kesehatan fiskal secara disiplin demi mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027,” tulis Pilarmas dalam risetnya pada Selasa (18/8/2026).

Pilarmas mencatat bahwa penguatan IHSG terjadi saat mayoritas bursa saham regional Asia justru bergerak melemah. Sentimen eksternal global masih dibayangi oleh memudarnya harapan perdamaian di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi China.

Lebih lanjut, Pilarmas menambahkan bahwa kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir tanpa perpanjangan. Presiden AS Donald Trump juga dikabarkan tidak memiliki minat untuk memperpanjang kesepakatan tersebut.

Kondisi ini, menurut Pilarmas, berpotensi meningkatkan kekhawatiran akan memanasnya kembali konflik serta terganggunya pasokan minyak melalui Selat Hormuz, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga minyak.

“Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat meningkatkan tekanan inflasi dan membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed,” jelas Pilarmas.

Ekonomi China Melambat

Sentimen negatif lain datang dari China, di mana data terbaru menunjukkan perlambatan momentum pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan penjualan ritel secara tahunan turun menjadi 0,6% dari sebelumnya 1%. Secara kumulatif Januari-Juli, pertumbuhannya juga terkoreksi menjadi 1,2% dari 1,3%.

Sementara itu, pertumbuhan produksi industri juga mengalami penurunan menjadi 4,5% dari 5,3%. Untuk periode kumulatif, pertumbuhan produksi industri mencapai 5,3%, sedikit turun dari 5,4%. “Ini merupakan data perlambatan pertama yang tercatat dalam tiga bulan terakhir,” tulis Pilarmas.

Pada sesi I perdagangan, sejumlah saham mencatat kenaikan terbesar, termasuk JARR, YPAS, INET, TEBE, dan GRPH. Sebaliknya, saham TCPI, BAIK, BTEK, STAR, dan MAPB menjadi saham dengan penurunan terbesar.

Untuk perdagangan sesi II, Pilarmas merekomendasikan saham AADI dengan rekomendasi buy, menempatkan area support di 9.200 dan resistance di 10.200.