DailyFX.ID — JAKARTA – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia menegaskan bahwa pemerintah saat ini masih memfokuskan upaya penanggulangan gempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengoptimalkan kapasitas dan sumber daya nasional. Oleh karena itu, bantuan internasional belum diperlukan.
“Saat ini fokus penanganan adalah memastikan kebutuhan masyarakat yang terdampak dapat dipenuhi melalui kapasitas dan sumber daya nasional yang dimiliki,” ujar Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang dalam taklimat media di Jakarta pada Kamis (20/8/2026).
Meskipun demikian, pemerintah Indonesia menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian, simpati, serta ucapan solidaritas dari negara-negara sahabat. Indonesia juga menghargai berbagai tawaran bantuan yang ditujukan untuk menolong para korban dan mempercepat pemulihan pascabencana di NTT.
Yvonne mengungkapkan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono telah menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung kepada sejumlah duta besar negara sahabat atas kepedulian yang ditunjukkan. “Kami menilai perhatian tersebut amat bermakna bagi kami pada masa yang sulit ini,” tutur Yvonne.
Respons Terhadap Tawaran Bantuan China
Menanggapi pertanyaan terkait peluang pembahasan bantuan bencana NTT dalam agenda Strategic Comprehensive Dialogue (CSD) antara Menlu Sugiono dan Menlu China Wang Yi pada Jumat (21/8/2026), Yvonne menyebutkan hal tersebut masih akan dibahas lebih lanjut.
Sebelumnya, Juru Bicara Kemlu China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing pada Senin (17/8/2026) menyatakan pihak China terus memantau perkembangan situasi pascagempa. Pihak China juga mengonfirmasi adanya warga negaranya yang turut menjadi korban luka dalam peristiwa tersebut. “China bersedia memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” ungkap Lin Jian.
Update Korban dan Penyaluran Logistik BNPB
Berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia akibat gempa NTT yang terjadi pada 15 Agustus 2026 bertambah menjadi 71 orang, setelah tercatat satu korban jiwa tambahan pada Rabu (19/8/2026).
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan pemerintah terus memacu pendistribusian logistik ke wilayah terdampak. Hingga Selasa (18/8/2026) pukul 18.00 WIB, total bantuan yang terkirim selama periode 15–18 Agustus 2026 telah mencapai 398 ton, di mana 165 ton di antaranya disalurkan melalui jalur udara untuk menembus area yang sulit dijangkau.
Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara geografis terletak pada jalur lingkar pasifik (Ring of Fire) serta berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia, serta jalur sesar aktif (back-arc thrust). Kondisi geologis ini menjadikan kawasan Nusa Tenggara kerap mengalami aktivitas seismik skala besar yang berpotensi memicu kerusakan infrastruktur berat hingga ancaman tsunami.
Dalam manajemen krisis bencana, pemerintah Indonesia menerapkan skema evaluasi bertahap sebelum memutuskan untuk membuka atau menerima bantuan internasional (foreign disaster assistance). Kebijakan ini berlandaskan pada prinsip kemandirian nasional serta standar operasional penanggulangan bencana yang terukur, di mana status darurat internasional baru dipertimbangkan jika kapasitas tanggap darurat, logistik, dan alat berat dalam negeri sudah tidak mampu menangani skala kerusakan yang ada.
Melalui optimalisasi peran BNPB, TNI, Polri, kementerian terkait, serta relawan domestik, pengoperasian jembatan udara (airlift) dan jalur laut terus diprioritaskan guna memastikan seluruh bantuan logistik serta pelayanan medis darurat dapat terdistribusi secara cepat dan merata ke seluruh titik pengungsian di NTT.
Ikuti DailyFX.ID
