DailyFX.ID — Indonesia memegang peranan krusial bagi LIXIL, perusahaan global pelopor solusi air dan hunian berkelanjutan. Pasar Indonesia menyumbang sekitar 20% dari total bisnis LIXIL di kawasan Asia Pasifik, menjadikannya salah satu pasar prioritas utama perusahaan.
Audrey Yeo, Leader LIXIL Water Technology APAC (Asia-Pacific), menjelaskan bahwa besarnya populasi, pembangunan infrastruktur yang terus berkembang, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat akan produk berkualitas yang mampu meningkatkan kualitas hidup menjadi alasan kuat LIXIL menanamkan investasi jangka panjang di Indonesia. “Indonesia berkontribusi sekitar 20% terhadap bisnis kami di Asia Pasifik. Karena itu Indonesia menjadi salah satu pasar prioritas dalam portofolio kami,” ujar Audrey Yeo kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Saat ini, LIXIL mengoperasikan dua fasilitas manufaktur di Indonesia. Kedua pabrik tersebut mampu memenuhi sekitar 90% kebutuhan pasar domestik, dengan sebagian kecil produk diekspor. Tingkat utilisasi pabrik disebut telah mendekati kapasitas optimal. “Kami terus berinvestasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas fasilitas yang ada. Selain itu, kami juga memperkuat riset dan pengembangan serta riset konsumen agar semakin dekat dengan kebutuhan pasar,” tambah Audrey Yeo.
Meskipun belum ada rencana pembangunan pabrik baru dalam waktu dekat, LIXIL akan terus mengevaluasi kebutuhan ekspansi seiring dengan pertumbuhan permintaan pasar. “Indonesia adalah pasar yang sangat menarik dan kami melihat peluang jangka panjang yang kuat. Karena itu kami akan terus berinvestasi dan menghadirkan solusi yang membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia,” tegasnya.
Bidik Generasi Muda
Audrey Yeo melihat potensi pertumbuhan terbesar berasal dari generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z). Generasi ini menunjukkan kepedulian yang semakin tinggi terhadap isu keberlanjutan. Karakteristik Gen Z berbeda dengan generasi sebelumnya, karena mereka lebih fokus pada fungsi produk, efisiensi sumber daya, dan dampak lingkungan.
Menyasar segmen ini, LIXIL mulai mengembangkan produk dan strategi pemasaran yang dirancang khusus untuk kelompok usia tersebut. Pemanfaatan platform digital seperti TikTok menjadi salah satu strategi pemasaran yang diterapkan. LIXIL juga menghadirkan produk yang didesain khusus untuk menjawab kebutuhan konsumen Indonesia.
Salah satu produk inovatif yang akan diluncurkan tahun ini adalah koleksi Maxfit. Produk ini dirancang untuk menjawab tren hunian yang semakin padat akibat urbanisasi. “Pada Agustus atau September, kami akan meluncurkan koleksi baru yang bernama Maxfit dan itu adalah produk yang didesain untuk masyarakat Indonesia. Jadi kami menciptakan Maxfit untuk menghidupkan segmen ini di pasar, dan ini juga terkait dengan Gen Z,” jelas Audrey Yeo.
Selain Maxfit, LIXIL juga memperkenalkan WizFlo, sebuah hand shower yang dirancang untuk memberikan pengalaman mandi yang lebih nyaman dengan tekanan air yang tinggi. Inovasi ini menjawab keluhan umum mengenai tekanan air yang rendah pada hand shower di Indonesia. “Urbanisasi membuat ruang hunian semakin terbatas. Namun konsumen tetap menginginkan produk yang fungsional dan memiliki desain yang baik. Karena itu kami terus mengembangkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia,” ujar Audrey Yeo.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar pengguna produk sanitasi LIXIL di Indonesia masih berasal dari segmen rumah tapak (landed house). Namun, tren hunian yang semakin padat menjadi pertimbangan utama perusahaan dalam mengembangkan produk-produk baru.
Komitmen Keberlanjutan
LIXIL menegaskan komitmennya terhadap agenda keberlanjutan dengan target mencapai net zero impact pada 2050 di seluruh jaringan manufaktur globalnya. Audrey Yeo menyatakan bahwa beberapa pabrik perusahaan telah berhasil mencapai target tersebut.
Dekarbonisasi dipandang bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan peluang untuk mendorong inovasi dan efisiensi bisnis. “Upaya pemerintah Indonesia dalam mengurangi jejak karbon merupakan sesuatu yang kami lihat sebagai peluang, bukan hanya sekadar kepatuhan terhadap regulasi,” kata Audrey Yeo.
Strategi keberlanjutan LIXIL dijalankan melalui dua pendekatan utama. Pertama, mengembangkan produk yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air dan energi. Kedua, meningkatkan efisiensi operasional di seluruh rantai bisnis, mulai dari proses produksi hingga rantai pasok. “Bagi kami, keberlanjutan tidak hanya soal dekarbonisasi, tetapi juga efisiensi air, efisiensi energi, dampak proses bisnis, serta penciptaan nilai jangka panjang,” jelas Audrey Yeo.
Transformasi menuju operasi yang lebih ramah lingkungan memang membutuhkan investasi tambahan, terutama pada teknologi dan proses produksi. Namun, LIXIL berupaya menekan dampak biaya tersebut melalui efisiensi di berbagai lini bisnis. Salah satu langkah konkret adalah mengurangi penggunaan kemasan dengan cetakan warna berlebih dan beralih ke desain yang lebih sederhana, yang tidak hanya mengurangi dampak lingkungan tetapi juga menekan biaya produksi.
Terkait program perdagangan karbon (carbon trading) yang tengah dikembangkan pemerintah Indonesia, Audrey Yeo menilai kebijakan tersebut merupakan langkah positif. Perusahaan masih terus mempelajari implementasinya serta melihat peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung target keberlanjutan perusahaan. Jika terdapat fasilitas yang belum mampu memenuhi target pengurangan emisi, LIXIL berupaya memberikan dampak sosial positif melalui program peningkatan sanitasi, kebersihan, dan kualitas hidup masyarakat.
Ikuti DailyFX.ID
