DailyFX.ID — Potensi kerja sama ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Afrika Selatan dinilai sangat besar, didorong oleh ikatan sejarah yang kuat serta hubungan erat antarmasyarakat. Kedekatan historis ini diharapkan dapat diwujudkan secara konkret melalui perluasan investasi, pariwisata, pendidikan, hingga peningkatan konektivitas antarnegara.
Hal tersebut disampaikan oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) di Cape Town, Tudiono, dalam gelaran Resepsi Diplomatik memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang berlangsung di Cape Town, Afrika Selatan. Tudiono menegaskan, hubungan kedua negara memiliki akar sejarah dan budaya yang mendalam. Kehadiran tokoh-tokoh besar asal Nusantara pada masa kolonial, seperti Syekh Yusuf Al-Makassari, Tuan Guru, dan Dea Malela, telah memberikan kontribusi penting bagi pembentukan struktur sosial masyarakat di wilayah Cape.
“Kedekatan sejarah dan budaya ini harus terus kita terjemahkan menjadi kerja sama nyata di bidang perdagangan, investasi, pariwisata, pendidikan, dan konektivitas,” ujar Tudiono. Ia menyoroti, Afrika Selatan merupakan satu-satunya negara di Benua Afrika yang memegang status sebagai Mitra Strategis Indonesia. Selain itu, posisi kedua negara sebagai anggota forum elite G20 dan BRICS memberikan ruang yang semakin luas untuk memperkuat kerja sama bilateral sekaligus menyuarakan kepentingan bersama bagi negara-negara Global South.
Momentum Diplomatik dan Penguatan Kerja Sama
Menteri Mobilisasi Provinsi Western Cape, Isaac Sileku, yang hadir sebagai tamu kehormatan, menyampaikan apresiasinya terhadap perjuangan panjang Indonesia menentang kolonialisme. Sileku mengenang peran penting Indonesia dalam memprakarsai Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada 1955 sebagai fondasi solidaritas antar-bangsa.
Menurut Sileku, momentum hubungan bilateral kedua negara terus berada pada jalur positif, terutama pascakunjungan kenegaraan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa ke Indonesia pada Oktober 2025 lalu. Kunjungan tersebut dinilai memperluas peluang kerja sama strategis di berbagai sektor inti, termasuk pertanian, perdagangan, investasi, pertahanan, hingga pariwisata.
Guna melengkapi diplomasi ekonomi, KJRI Cape Town terus aktif menjalankan berbagai program diplomasi budaya dan kemasyarakatan. Dalam acara resepsi tersebut, ragam tarian tradisional seperti Tari Saman dari Aceh, Tari Lenggang Nyai dari Betawi, hingga musik Dendang Mangkasara dari Makassar turut dipamerkan kepada komunitas diplomatik dunia. Di samping itu, KJRI Cape Town konsisten menyelenggarakan kelas Bahasa Indonesia yang telah memasuki angkatan kesembilan, kegiatan Indonesian Folk Market, serta Indonesian Film Festival untuk mempererat jalinan antarwarga.
Dinamika Angka Perdagangan Bilateral
Dari sisi transaksi perdagangan, produk-produk asal Indonesia semakin diminati di pasar Afrika Selatan, khususnya di kawasan Western Cape. Komoditas ekspor utama Indonesia ke Afrika Selatan meliputi produk lemak nabati dan hewani, peralatan mesin, alas kaki, bahan kimia, serta makanan olahan. Sebaliknya, Afrika Selatan mengekspor produk mineral, besi dan baja, bahan kimia, serta mesin ke Indonesia.
Terdapat dinamika unik terkait pencatatan data perdagangan antar-kedua negara pada 2025. Perspektif BPS (via Trade Map) mencatat nilai perdagangan mengalami defisit di pihak Indonesia sebesar R808,8 juta (sekitar Rp 885 juta). Namun, perspektif SARS (South African Revenue Service) mencatat Indonesia mengalami surplus perdagangan yang signifikan sebesar R11,6 miliar (sekitar Rp 12,6 triliun).
Perbedaan estimasi angka ini terjadi akibat adanya perbedaan kriteria metode pencatatan (accounting method). Pihak Indonesia menerapkan metode Free on Board (FOB) untuk ekspor dan Cost, Insurance, and Freight (CIF) untuk impor, sedangkan Afrika Selatan menerapkan metode FOB baik pada pencatatan ekspor maupun impor.
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Afrika Selatan secara resmi dibuka pada 1994, tak lama setelah berakhirnya era rezim Apartheid dan terpilihnya Nelson Mandela sebagai Presiden Afrika Selatan. Kedekatan kedua bangsa telah terjalin lama sejak abad ke-17 ketika Pemerintah Kolonial Belanda membuang ulama dan pejuang asal Nusantara ke Cape Town, yang kemudian meletakkan pondasi bagi perkembangan komunitas Muslim Melayu Cape (Cape Malays).
Pada era modern, kemitraan kedua negara ditingkatkan menjadi Kemitraan Strategis (Strategic Partnership) pada 2008. Status ini mencerminkan peran krusial Indonesia dan Afrika Selatan sebagai kekuatan utama di wilayahnya masing-masing. Melalui posisi manajerial dalam forum BRICS dan G20, kedua negara berkomitmen untuk terus mendorong reformasi tata kelola ekonomi global, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta membangun akses pasar yang berkeadilan bagi negara-negara berkembang di kawasan Selatan Global.
Ikuti DailyFX.ID
