— WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan melakukan langkah diplomasi yang tidak biasa dengan menyambut langsung kedatangan Presiden China Xi Jinping di pangkalan udara Joint Base Andrews, Maryland. Penyambutan ini akan berlangsung pada Rabu, 23 September 2026, waktu setempat. Biasanya, presiden AS menerima tamu negara di Gedung Putih.

Kunjungan kenegaraan pemimpin China ini merupakan yang pertama dalam lebih dari satu dekade dan akan mencakup diskusi tingkat tinggi serta jamuan diplomatik. Pertemuan ini sangat penting mengingat kedua negara merupakan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Agenda puncak kunjungan dijadwalkan pada Kamis, 24 September 2026, di mana Donald Trump bersama Ibu Negara Melania Trump akan menyambut Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, dalam upacara resmi di Gedung Putih. Kedua pemimpin akan meninjau pasukan di Rose Garden sebelum menggelar pertemuan tertutup.

Malam harinya, Trump akan menyelenggarakan jamuan makan malam kenegaraan di East Room. Trump menyatakan antusiasmenya yang tinggi terhadap acara tersebut, meskipun harus menolak banyak permintaan kehadiran karena keterbatasan kapasitas ruang aula yang masih dalam tahap pembangunan. Kapasitas ballroom Gedung Putih yang baru direncanakan mencapai 1.000 orang.

Sejumlah tokoh terkemuka dari korporasi dan raksasa teknologi AS telah diundang dalam jamuan makan malam tersebut. Daftar tamu meliputi Pendiri Amazon Jeff Bezos, CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk, CEO Google Sundar Pichai, CEO Dell Technologies Michael Dell, CEO Nvidia Jensen Huang, CEO OpenAI Sam Altman, CEO Citigroup Jane Fraser, dan mantan CEO Apple Tim Cook.

Rangkaian kunjungan akan dilanjutkan pada Jumat, 25 September 2026, dengan acara minum teh pribadi di Gedung Putih. Trump kemudian akan mendampingi Xi Jinping mengunjungi National Archives, tempat penyimpanan dokumen sejarah penting AS, yang bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan negara tersebut.

Negosiasi Tarif Impor, AI, dan Logam Tanah Jarang

Di luar agenda formal, pejabat senior AS mengindikasikan adanya potensi negosiasi ekonomi. Pihak AS dan China berpeluang menyepakati pelonggaran tarif pada komoditas non-strategis tertentu yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Namun, AS diproyeksikan belum akan melonggarkan kontrol ekspor teknologi utamanya.

Sementara itu, pembatasan pasokan dan cadangan logam tanah jarang oleh China, yang merupakan bahan baku vital untuk produk elektronik hingga pesawat tempur, diperkirakan akan menjadi topik pembahasan yang intensif. Sebagai persiapan, Menteri Keuangan AS Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dijadwalkan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York. Pertemuan pra-KTT ini akan berfokus pada konsultasi ekonomi, perdagangan, serta regulasi kecerdasan buatan (AI).

Kunjungan kenegaraan Xi Jinping ke Washington dipandang sebagai titik krusial dalam hubungan bilateral AS-China yang saat ini dipenuhi ketegangan geopolitik dan kompetisi ekonomi. Hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir diwarnai oleh perang tarif, pembatasan akses teknologi tinggi, serta persaingan dominasi rantai pasok global. Dominasi China atas produksi logam tanah jarang dunia menjadi kartu truf utama dalam menghadapi sanksi dan kontrol ekspor teknologi AS. Keterlibatan aktif para pemimpin industri teknologi papan atas AS dalam agenda ini juga menandaskan ketergantungan sektor bisnis global terhadap stabilitas hubungan diplomasi dan kebijakan perdagangan antara kedua negara. Kunjungan ini merupakan yang pertama bagi Xi Jinping ke AS sejak September 2015, saat era pemerintahan Presiden Barack Obama.