— Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, kembali ke almamaternya, Tsinghua University di Beijing, bukan hanya untuk menerima gelar Honorary Professor. Kunjungan tersebut justru menjadi momen baginya untuk melihat kemajuan China sebagai refleksi atas pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan Indonesia.

Menurut Luhut, China kini telah melampaui Indonesia dalam banyak aspek inovasi, mulai dari kualitas sumber daya manusia (SDM), riset, hingga pengembangan teknologi. Namun, ia menegaskan bahwa keunggulan tersebut tidak seharusnya membuat Indonesia merasa gentar. “Keunggulan mereka bukanlah ancaman yang membuat kita ciut nyali, melainkan cermin tempat kita belajar,” tulis Luhut melalui akun media sosialnya, Sabtu (19/9/2026).

Kuliah umum yang diberikan Luhut di Tsinghua University pada Jumat (18/9/2026) bertema “Navigating Indonesia’s Economic Transformation in a Fragmented World”. Ia diperkenalkan sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Penasihat Khusus Presiden Republik Indonesia, dan Honorary Professor universitas tersebut. Sekitar 300 mahasiswa, termasuk mahasiswa internasional dan mahasiswa asal Indonesia, hadir dalam acara tersebut.

Luhut memaparkan bahwa kemajuan China tidak terwujud dalam semalam, melainkan hasil dari investasi besar dalam pendidikan dan riset. “Transformasi China tidak dipicu dari lantai pabrik, melainkan dipupuk dari ruang kelas, laboratorium, serta ketekunan para ilmuwan dan insinyurnya,” ujar Luhut. Pesan ini, menurutnya, sangat relevan untuk dibawa pulang ke Indonesia, menekankan pentingnya fondasi manusia, riset, disiplin, dan ekosistem pendidikan yang kuat untuk mendukung kemajuan industri dan teknologi.

Dalam kunjungannya, Luhut juga berdialog dengan mahasiswa Indonesia di Tsinghua, termasuk dengan cucunya, Faye Hasian Simanjuntak, yang merupakan alumnus program Schwarzman Scholars. Ia menyoroti ketatnya disiplin akademik di Tsinghua, di mana mahasiswa pascasarjana pun diwajibkan menjaga nilai olahraga. “Seakan mengingatkan kita bahwa kecerdasan intelektual harus dibarengi kedisiplinan dan ketahanan fisik,” kata dia.

Luhut juga berbagi cerita tentang upaya Indonesia dalam transformasi digital pemerintahan melalui pengembangan GovTech. Program ini bertujuan untuk memangkas birokrasi, meningkatkan efisiensi anggaran, dan membuat penanganan kemiskinan menjadi lebih akurat. Ia menekankan bahwa keberhasilan transformasi digital ini membutuhkan partisipasi aktif dari universitas, ilmuwan, peneliti, dan talenta terbaik Indonesia.

Kunjungan ini juga menghasilkan penguatan kerja sama riset antara institusi Indonesia dan China. Terdapat kolaborasi antara Zhejiang University dengan Institut Teknologi Del (IT Del) di bidang herbal dan genomik, serta penguatan teknologi pemerintahan bersama Tsinghua Southeast Asia Center di Bali. Kerja sama IT Del dengan Zhejiang University sebelumnya telah menjajaki riset bersama mengenai andaliman, tanaman khas Sumatera Utara, untuk potensi senyawa bioaktifnya.

Luhut menyatakan bahwa hasil kunjungannya ke China memiliki pesan yang lebih luas, yaitu pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam agenda transformasi bangsa. “Agenda besar transformasi bangsa butuh keterlibatan lebih banyak universitas, peneliti, dan talenta terbaik Indonesia agar punya keberanian untuk terus belajar, bekerja disiplin, dan pantang takut berinovasi,” ujarnya.

Pesan mengenai pentingnya pendidikan ini memiliki akar yang kuat dalam perjalanan Luhut. Ia adalah pendiri Yayasan Del, yang mendirikan Politeknik Informatika Del (kini Institut Teknologi Del) di kampung halamannya di Sumatra Utara. Kampus ini didirikan dengan gagasan membawa pendidikan tinggi berkualitas ke daerah terpencil, memberikan kesempatan bagi masyarakat perdesaan untuk mengenyam pendidikan yang baik.

Perjalanan dari kampus yang ia bangun di tepian Danau Toba hingga ruang kuliah Tsinghua di Beijing menemukan titik temu pada keyakinan yang sama akan pentingnya pendidikan. Luhut berharap, dengan belajar dari kemajuan negara lain, Indonesia dapat terus berbenah dan berkembang.