DailyFX.ID — JAKARTA – Keberadaan Surakman, anak buah kapal (ABK) KM Arupadhatu 1, akhirnya terkonfirmasi hampir dua pekan setelah kapal yang membawa lima jurnalis dan tiga kru itu hilang kontak di perairan Selat Sunda. Jenazah tanpa identitas yang ditemukan di pesisir Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dipastikan identik dengan Surakman.
Kepastian itu didapat setelah tim melakukan pencocokan DNA antara sampel jenazah dan data antemortem dari keluarga korban. Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menyatakan, hasil pemeriksaan DNA oleh Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri menunjukkan jenazah tersebut identik dengan Surakman.
“Hasil tes DNA dari delapan keluarga korban KM Arupadhatu I adalah Surakman,” kata Hengki dalam konferensi pers di Polda Banten, Rabu (23/9/2026).
Temuan ini menjadi petunjuk penting pasca-penghentian operasi pencarian KM Arupadhatu 1 pada 17 September 2026. Selama 10 hari, tim SAR gabungan telah menyisir wilayah laut dan udara untuk mencari kapal beserta delapan orang di dalamnya, namun belum membuahkan hasil.
Petunjuk baru muncul ketika jenazah laki-laki tanpa identitas ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Pulau Enggano, pada Sabtu (12/9/2026). Kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan sehingga identitasnya sulit dikenali. Karena tidak ada laporan kehilangan anggota keluarga dari warga setempat, jenazah sempat dimakamkan.
Informasi penemuan jenazah ini kemudian dikaitkan dengan pencarian rombongan KM Arupadhatu 1. Polda Banten berkoordinasi dengan Polda Bengkulu. Jenazah dievakuasi dari Pulau Enggano ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk menjalani pemeriksaan postmortem dan proses identifikasi.
Tim DVI memiliki data antemortem berupa sampel DNA keluarga delapan orang yang hilang. Data ini menjadi pembanding untuk memastikan apakah jenazah yang ditemukan ratusan kilometer dari lokasi terakhir KM Arupadhatu 1 merupakan salah satu dari delapan orang yang hilang tersebut.
Proses identifikasi tidak langsung memberikan kepastian. Pada 15 September, polisi masih menyatakan identitas jenazah belum dapat dipastikan sebagai bagian dari rombongan KM Arupadhatu 1, dan pencocokan DNA masih dilakukan oleh tim DVI.
Proses pemeriksaan dilakukan secara profesional oleh Pusdokkes Polri dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Hasilnya, jenazah dinyatakan identik dengan Surakman.
Dengan demikian, temuan di Pulau Enggano menjadi bukti pertama yang secara forensik menghubungkan salah satu dari delapan orang yang hilang dengan kasus KM Arupadhatu 1. Surakman merupakan satu dari tiga kru kapal yang berangkat bersama lima jurnalis dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9/2026).
Rombongan tersebut sebelumnya menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas erupsi. Setelah keberangkatan itu, KM Arupadhatu 1 tidak kembali dan hilang kontak.
Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut adalah M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudistiro, Firdaus, dan Donal. Sementara tiga kru kapal terdiri dari Warta sebagai nahkoda, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu.
Identifikasi Surakman belum menutup seluruh kasus hilangnya KM Arupadhatu 1. Masih terdapat tujuh orang lainnya yang belum diketahui keberadaannya, yaitu lima jurnalis serta dua kru kapal. Temuan Surakman menambah satu bagian penting dalam rangkaian pencarian, menunjukkan ada korban yang ditemukan jauh dari lokasi terakhir kapal diketahui berada.
Namun, temuan tersebut belum menjawab bagaimana KM Arupadhatu 1 dapat berakhir tanpa ditemukan hingga operasi SAR dihentikan. Pertanyaan mengenai keberadaan kapal, nasib tujuh orang lainnya, serta bagaimana Surakman dapat ditemukan di Pulau Enggano masih menjadi bagian yang belum terungkap dalam kasus ini. Bagi keluarga korban, hasil DNA ini setidaknya memberikan kepastian atas nasib satu anggota rombongan, namun pencarian jawaban mengenai tujuh orang lainnya masih menyisakan tanda tanya.
Ikuti DailyFX.ID
