DailyFX.ID — JAKARTA – Strabismus atau mata juling merupakan kondisi yang tidak boleh dibiarkan karena dapat mengganggu fungsi penglihatan, menurunkan kepercayaan diri, dan kualitas hidup penderitanya. Kondisi ini dapat ditangani melalui terapi hingga operasi.
Mata juling terjadi ketika satu mata melihat satu objek, namun mata lainnya menyimpang. Pergeseran deviasi ini bisa mengarah ke dalam, luar, atas, atau bawah. Menurut Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng, Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), kondisi ini dapat mengganggu kerja kedua mata, persepsi kedalaman, dan perkembangan fungsi penglihatan pada anak.
“Strabismus memiliki penyebab, pola, dan kebutuhan penanganan yang berbeda pada setiap pasien. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan yang lengkap, dukungan Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus, serta pilihan terapi yang sesuai dan berkesinambungan,” ujar Dr. Referano.
Selain berdampak pada fungsi penglihatan, strabismus juga memengaruhi aspek psikososial. Pada anak, kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko perundungan. Sementara pada orang dewasa, strabismus dapat memengaruhi interaksi sosial, kepercayaan diri, dan peluang profesional. Melalui Pusat Operasi Mata Juling di RS Mata JEC @ Menteng, pasien anak dan dewasa dapat memperoleh penanganan yang tepat, mulai dari terapi nonbedah hingga operasi berdasarkan indikasi medis.
Faktor Risiko Mata Juling
Menurut Wakil Ketua INAPOSS (Indonesian Pediatric Ophthalmology and Strabismus Society), DR. Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), strabismus dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, serta perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata.
Gangguan pada otot atau saraf penggerak mata juga menjadi penyebab. Selain itu, kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, dan penyakit sistemik tertentu, khususnya yang muncul pada usia dewasa, juga dapat menyebabkan strabismus.
Penanganan Strabismus yang Komprehensif
Ahli strabismus, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, menekankan pentingnya kompetensi tenaga medis, ketepatan diagnosis, teknologi yang relevan, dan komunikasi yang jelas dalam membangun kepercayaan pasien.
“Dalam penanganan strabismus, setiap pasien dapat memiliki penyebab, kondisi penglihatan, dan kebutuhan terapi yang berbeda. Pasien dan keluarga membutuhkan rasa aman dan keyakinan bahwa keputusan medis yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhannya,” kata Prof. Tjahjono.
Prinsip ini dijaga oleh JEC Eye Hospitals and Clinics melalui layanan terintegrasi yang didukung tenaga medis subspesialistik dan berorientasi pada fungsi penglihatan serta kualitas hidup pasien. Penanganan strabismus disesuaikan dengan penyebab, usia pasien, arah dan besar deviasi mata, ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, keberadaan ambliopia (mata malas), fungsi penglihatan binokular, serta kondisi kesehatan penyerta.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, penanganan dapat berupa penggunaan kacamata hingga operasi. Keberhasilan penanganan tidak hanya diukur dari perbaikan posisi mata, tetapi juga peningkatan fungsi penglihatan, koordinasi kedua mata, berkurangnya penglihatan ganda, serta kemampuan pasien menjalani aktivitas sehari-hari.
Rangkaian layanan di Pusat Operasi Mata Juling mencakup pemeriksaan ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, posisi dan pergerakan bola mata, fungsi penglihatan binokular, serta kondisi bagian mata lainnya. Pemeriksaan stereopsis dan koordinasi kedua mata menggunakan alat seperti Synoptophore, TNO, dan Fly Test juga dilakukan sesuai kebutuhan klinis.
Jika kondisi memungkinkan tidak dioperasi, koreksi dapat dilakukan menggunakan kacamata, termasuk lensa khusus atau prisma pada pasien tertentu untuk membantu fokus, mengurangi deviasi, atau mengatasi penglihatan ganda. Terapi ambliopia melalui penutupan mata yang lebih kuat (patching) juga dilakukan untuk menstimulasi mata yang lebih lemah.
Namun, jika kondisi tidak memungkinkan dikoreksi dengan kacamata atau terapi nonbedah belum memberikan hasil memadai, operasi otot mata menjadi pilihan. Keputusan operasi dibuat tidak hanya untuk memperbaiki penampilan, tetapi lebih jauh untuk memperbaiki fungsi mata secara menyeluruh dan mencapai penglihatan binokular tunggal. Perencanaan operasi disusun secara individual dan disertai pemantauan berkelanjutan.
Jenis dan Tanda Strabismus
Strabismus dapat dibedakan berdasarkan arah pergeseran mata (deviasi). Esotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah dalam (mendekati hidung), exotropia ke arah luar, hypertropia ke arah atas, dan hypotropia ke arah bawah. Sebagian pasien dapat mengalami pola kombinasi.
Strabismus latent atau tersembunyi tidak selalu mudah dikenali. Posisi mata bisa terlihat normal saat fokus, namun tampak bergeser saat lelah atau terekam dalam foto dan video.
Pada bayi berusia tiga hingga empat bulan, mata terkadang tampak belum terkoordinasi karena sistem penglihatan masih berkembang. Namun, jika ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, mata juling umumnya tidak membaik dengan sendirinya dan dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia. Orang tua disarankan tidak menunggu anak dewasa untuk pemeriksaan, terutama jika anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit saat melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak, sulit memperkirakan jarak, atau mengeluhkan penglihatan ganda.
Juling yang muncul mendadak, terutama jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya, memerlukan pemeriksaan segera.
Berdasarkan pola kemunculannya, strabismus dapat dikenali sebagai:
- Strabismus manifest atau nyata: ketidaksejajaran mata yang terlihat jelas dan terus-menerus.
- Strabismus latent atau tersembunyi: kecenderungan mata bergeser yang biasanya tidak terlihat dalam kondisi sehari-hari dan terdeteksi melalui pemeriksaan tertentu.
- Strabismus intermittent atau hilang-timbul: mata juling yang hanya muncul pada waktu tertentu, misalnya saat lelah, mengantuk, sakit, atau kehilangan fokus.
- Strabismus alternating atau bergantian: ketidaksejajaran yang dapat berpindah antara mata kanan dan kiri.
Ikuti DailyFX.ID
