DailyFX.ID — Analis memprediksi tren reli harga emas dunia tidak akan berjalan mulus. Hal ini dipicu oleh sentimen inflasi Amerika Serikat yang belum mencapai target dan prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dalam analisis terbarunya, Ahli Strategi Komoditas di ING, Ewa Manthey, menyatakan bahwa risiko fiskal telah memberikan momentum baru bagi emas, mendorong harganya melampaui US$ 4.600 per troy ounce. “Pergerakan terbaru ini menyusul keputusan Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan pembelian utang pemerintah berjangka waktu lebih panjang,” kata Manthey, dikutip dari Kitco News.
Namun, ia mencatat bahwa dampak pasar obligasi terhadap naiknya harga emas hanya berlangsung singkat. Imbal hasil jangka panjang dengan cepat memulihkan sebagian besar penurunannya.
“Meski demikian, emas terus menguat. Menurut pandangan kami, ketahanan emas menunjukkan bahwa reli ini bukan sekadar respons terhadap penurunan imbal hasil. Prospek pembelian kembali obligasi yang lebih besar oleh Departemen Keuangan AS telah mengalihkan kembali perhatian pada utang pemerintah dan kredibilitas fiskal. Hal ini juga memicu kembali kekhawatiran mengenai penurunan nilai mata uang, sehingga memperkuat daya tarik emas sebagai penyimpan nilai,” imbuh Manthey.
Lebih lanjut Manthey menjelaskan, pelemahan kembali dolar AS dan penurunan imbal hasil jangka pendek turut berkontribusi pada pemulihan harga emas. Sementara itu, data ekonomi AS yang lebih lemah memicu kembali ekspektasi bahwa The Fed dapat mulai menurunkan suku bunga pada tahun 2027.
Permintaan emas dari bank sentral juga tetap kuat selama periode konsolidasi harga. “Pembelian bersih yang dilaporkan bank-bank sentral mencapai 51 ton pada bulan Juni, menjadikan total pembelian pada semester pertama sebesar 102 ton, dengan Polandia dan Tiongkok sebagai pembeli utama. Kami memperkirakan pembelian oleh sektor resmi akan terus menopang pasar emas, namun kenaikan harga lebih lanjut akan semakin bergantung pada apakah investor di Barat mempertahankan minat baru mereka terhadap emas,” beber Manthey.
Peluang Kenaikan Harga Emas Tetap Bertahan
Manthey menegaskan bahwa peluang kenaikan terhadap proyeksi harga emas untuk akhir tahun ini tetap bertahan. “Prakiraan kami sebesar US$ 4.150 per troy ounce untuk kuartal keempat (harga rata-rata) didasarkan pada asumsi bahwa inflasi yang persisten akan mempertahankan kebijakan moneter AS yang restriktif dan mencegah penurunan imbal hasil secara berkelanjutan,” katanya.
Namun, ia menambahkan, “kembali maraknya pembelian ETF, pelemahan dolar AS, dan meningkatnya kekhawatiran fiskal menciptakan risiko yang semakin nyata terhadap proyeksi kami.”
“Koreksi harga emas tampaknya telah mencapai titik terendahnya. Kembalinya pembelian ETF dan ketahanan harga emas di tengah tingginya imbal hasil mengindikasikan bahwa pemulihan berada pada landasan yang lebih kokoh; namun, kenaikan lebih lanjut akan bergantung pada apakah permintaan investasi terus meningkat dan bagaimana respons The Fed terhadap inflasi yang persisten,” jelas Manthey.
Ikuti DailyFX.ID
