DailyFX.ID — Harga emas diperkirakan akan kembali menghadapi volatilitas pada pekan mendatang. Pelaku pasar akan secara cermat mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), perkembangan pertumbuhan ekonomi, serta sinyal arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Perhatian utama tertuju pada data Core Personal Consumption Expenditures (PCE) dan pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam simposium Jackson Hole. Kedua agenda ini berpotensi memberikan petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed dan secara signifikan menentukan pergerakan harga emas ke depan.
Sepanjang pekan ini, harga emas mencatatkan penguatan tajam. Hal ini didukung oleh pelemahan dolar AS, berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September, serta kekhawatiran yang muncul terkait kondisi fiskal Amerika Serikat.
Emas bahkan sempat menembus level US$ 4.500 per ons troi setelah pengumuman pembelian kembali surat utang oleh Departemen Keuangan AS. Pada perdagangan Jumat, harga emas kembali bergerak stabil di atas US$ 4.600 per ons troi.
Agenda Ekonomi Penting Pekan Depan
Agenda ekonomi terpenting pekan depan akan dimulai pada Selasa dengan rilis indeks kepercayaan konsumen dari Conference Board dan data penjualan rumah baru. Data-data ini akan memberikan gambaran mengenai ketahanan konsumsi dan sektor perumahan di tengah tingginya biaya pinjaman yang berlaku saat ini.
Selanjutnya, Rabu akan menjadi hari yang paling padat dengan rilis Core PCE Price Index, estimasi kedua pertumbuhan ekonomi kuartal II, serta data pesanan barang tahan lama.
Core PCE menjadi perhatian utama karena merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan moneternya. Jika data inflasi kembali menunjukkan tren melandai, ekspektasi bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga pada September berpotensi menguat. Kondisi tersebut akan menjadi sentimen positif yang mendukung kenaikan harga emas.
Sebaliknya, jika data ekonomi yang dirilis menunjukkan kekuatan yang lebih baik dan inflasi yang tetap tinggi, hal ini dapat menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga. Kondisi ini berpotensi menekan harga emas karena akan meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan imbal hasil obligasi.
Data pertumbuhan ekonomi AS juga akan dicermati. Estimasi awal menunjukkan ekonomi AS tumbuh 1,5% secara tahunan pada kuartal II, melambat dari 2,1% yang tercatat pada kuartal I.
Jackson Hole Jadi Penentu Arah Kebijakan
Puncak perhatian pasar akan tertuju pada pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam simposium Jackson Hole yang dijadwalkan pada Jumat.
Pasar akan mencari petunjuk mengenai pandangan Powell terhadap inflasi, kondisi tenaga kerja, serta keseimbangan risiko ekonomi menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada bulan September.
Selain pidato Powell, pasar juga akan mendapatkan revisi tahunan awal data tenaga kerja AS. Revisi ini dapat memberikan gambaran apakah data pekerjaan sebelumnya terlalu tinggi atau justru terlalu rendah.
Jika revisi tersebut mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja jauh lebih lemah dari perkiraan, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dapat meningkat dan memberikan dukungan tambahan bagi harga emas. Sebaliknya, pesan yang cenderung hawkish dari Powell, pertumbuhan ekonomi yang kuat, atau inflasi yang kembali meningkat berpotensi menjadi hambatan bagi harga emas dalam jangka pendek.
Data Ekonomi yang Perlu Dicermati:
- Selasa: Kepercayaan Konsumen, Penjualan Rumah Baru
- Rabu: Core PCE Price Index, estimasi kedua PDB kuartal II, Pesanan Barang Tahan Lama
- Kamis: Klaim Pengangguran Mingguan
- Jumat: Pidato Jerome Powell di Jackson Hole, revisi tahunan awal data nonfarm payrolls, serta survei sentimen konsumen final dari University of Michigan.
Ikuti DailyFX.ID
