DailyFX.ID — Harga emas global melanjutkan tren positifnya dan berhasil bertahan di atas level psikologis US$ 4.600 per ons troi pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Penguatan ini ditopang oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya kekhawatiran terkait isu fiskal, meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS terpantau masih tinggi.
Dalam penutupan perdagangan, harga emas spot tercatat melonjak 1,88% mencapai US$ 4.604,09 per ons troi. Puncak tertinggi yang sempat diraih emas pada hari itu adalah US$ 4.632,90 per ons troi, menandai level tertingginya dalam tiga bulan terakhir.
Menurut laporan Kitco, lonjakan harga emas terjadi bersamaan dengan melemahnya indeks dolar AS yang turun di bawah angka 99. Kondisi ini secara otomatis membuat emas menjadi aset yang lebih menarik bagi para investor yang memegang mata uang selain dolar AS.
Namun demikian, kenaikan harga emas ini terjadi di tengah tingginya imbal hasil obligasi AS. Imbal hasil obligasi AS dengan tenor 10 tahun dilaporkan berada di kisaran 4,7%, sementara tenor 30 tahun mencapai sekitar 5,3%.
Perhatian pasar juga tertuju pada prospek kebijakan The Fed. Risalah rapat terbaru menunjukkan bahwa beberapa pejabat bank sentral AS tersebut masih membuka kemungkinan untuk menaikkan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan penurunan yang cukup cepat.
Meskipun demikian, pelaku pasar secara luas masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada bulan September. Fokus selanjutnya kini tertuju pada data inflasi PCE untuk bulan Juli serta pernyataan dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dijadwalkan dalam simposium Jackson Hole pekan depan.
Target Emas Berikutnya
Secara analisis teknikal, harga emas telah berhasil menembus target sebelumnya di level US$ 4.595 per ons troi dan mampu mempertahankan posisinya di atas rata-rata pergerakan 200 hari (moving average 200 hari). Kondisi ini secara positif menjaga momentum kenaikan harga emas.
Level resistance berikutnya yang menjadi target kenaikan emas berada di US$ 4.653,25 per ons troi. Apabila level ini mampu ditembus dan dipertahankan, emas berpotensi untuk melanjutkan penguatannya menuju target selanjutnya di US$ 4.852,91 per ons troi.
Sebaliknya, jika tekanan jual kembali menguat, level support terdekat yang perlu diwaspadai berada di US$ 4.453,59 per ons troi. Penurunan di bawah level tersebut dapat membuka peluang terjadinya koreksi lebih lanjut menuju US$ 4.382,83 dan bahkan US$ 4.253,93 per ons troi.
Selain faktor teknikal, emas juga masih mendapatkan sokongan dari meningkatnya risiko geopolitik serta ketidakpastian yang terjadi di pasar energi.
Ketidakpastian terkait Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pasar, terutama setelah upaya pembicaraan damai antara AS dan Iran menemui hambatan. Aktivitas lalu lintas komersial melalui selat strategis ini dilaporkan masih berada jauh di bawah level sebelum terjadinya perang.
Situasi tersebut turut menjaga harga minyak tetap berada pada level yang tinggi. Harga minyak Brent dilaporkan berada di kisaran US$ 93,29 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$ 84,34 per barel.
Meskipun harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan risiko inflasi dan membatasi penurunan yield obligasi AS, pelemahan dolar AS serta kekhawatiran fiskal tetap memberikan dukungan kuat bagi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, level US$ 4.653,25 menjadi penanda penting yang perlu ditembus oleh emas untuk membuka jalan menuju target harga yang lebih tinggi di US$ 4.852,91 per ons troi.
Ikuti DailyFX.ID
