— JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat aliran masuk modal asing atau net inflows ke pasar keuangan domestik mencapai US$ 400 juta hingga 21 September 2026. Aliran dana ini didorong oleh penerbitan global bond oleh pemerintah serta masuknya investor asing ke dalam Surat Berharga Negara (SBN).

Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan, hingga tanggal tersebut, tercatat net inflows sebesar US$ 400 juta. Ia menambahkan bahwa bank sentral terus memperkuat sinergi dengan pemerintah guna meningkatkan ketahanan eksternal di tengah gejolak global yang masih berlangsung.

Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi, BI juga secara konsisten memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Bank sentral mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang tersedia. Hal ini mencakup perluasan kebijakan insentif untuk mendorong aliran masuk investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA).

Lebih lanjut, BI telah memperluas cakupan transaksi underlying pendanaan luar negeri yang dapat memperoleh insentif pengurangan premi bagi Swap Jual Lindung Nilai (Swap Beli Lindung Nilai kepada Bank Indonesia) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Sebelumnya, insentif ini hanya berlaku untuk transaksi portfolio inflows.

Kini, cakupan tersebut diperluas untuk mencakup pinjaman luar negeri oleh bank dan foreign direct investment (FDI). Destry menjelaskan bahwa dengan langkah-langkah tersebut, nilai tukar rupiah sempat menguat pada periode Agustus hingga pertengahan September 2026. Namun, perkembangan terakhir menunjukkan adanya tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian kondisi global.

Berdasarkan data per 22 September 2026, nilai tukar rupiah tercatat Rp17.855 per dolar Amerika Serikat. Angka ini menunjukkan pelemahan terbatas sebesar 0,78% secara point to point (ptp) jika dibandingkan dengan level pada akhir Agustus 2026.

Ke depan, BI memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak stabil. Proyeksi ini didukung oleh komitmen BI, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, serta prospek perekonomian domestik yang dinilai tetap baik. Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat berbagai strategi dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.