DailyFX.ID — PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC), anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom), mendapatkan sinyal kuat untuk menjadi penyedia pusat data bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. NeutraDC diproyeksikan akan menjadi tulang punggung utama dalam mendukung kebutuhan data center seiring masifnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan-perusahaan BUMN.
Hasil pemetaan yang dilakukan Danantara dan Telkom terhadap lebih dari 70 responden BUMN menunjukkan adanya kebutuhan data center yang signifikan. Kontribusi terbesar berasal dari sektor perbankan, serta mobilitas dan kesejahteraan. Dari sisi geografis, permintaan mayoritas terkonsentrasi di wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali), diikuti oleh Batam dan Indonesia Timur.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyatakan bahwa Telkom berperan sebagai tulang punggung digital nasional yang mendukung kapabilitas sovereign cloud, sovereign AI, dan sovereign cybersecurity bagi sektor pemerintahan dan BUMN. “Data center Telkom menjadi fondasi bagi Indonesia dalam membangun ekosistem Sovereign AI yang berdaulat dan berkelanjutan,” kata Seno dalam keterangan resminya, Rabu (23/9/2026).
Pola pemanfaatan AI di BUMN diproyeksikan mengalami perubahan. Jika pada periode 2026–2029 AI masih banyak dimanfaatkan sebagai alat bantu, pada 2030 pemanfaatannya diperkirakan berkembang menuju AI agentic dan operasional terintegrasi. Konsumsi kapasitas data center diperkirakan mencapai sekitar 70% dari total kapasitas. “Tren ini diproyeksikan terus meningkat hingga 2030 seiring dengan semakin luasnya pemanfaatan AI di lingkungan BUMN,” tambah Seno.
Kapasitas 1 GW untuk Dukung Kebutuhan AI
Proyeksi tersebut menyoroti pentingnya kesiapan infrastruktur untuk menopang peningkatan kebutuhan komputasi AI. Menangkap peluang ini, NeutraDC telah menyiapkan rencana pengembangan AI data center dengan kapasitas hingga 1 GW. Pengembangan ini akan tersebar di Batam, Jabodetabek, Jawa, dan Manado, serta diperkuat dengan 26 edge data center di 21 kota untuk mendukung pemerataan kapabilitas komputasi secara nasional.
PT PLN Persero juga menyatakan kesiapan menjadi mitra strategis dalam menyediakan reliable power dan green energy. Kesiapan ini termasuk persiapan pasokan listrik berskala gigawatt untuk mendukung pertumbuhan data center sekaligus agenda dekarbonisasi nasional.
“Semua rencana strategis ini perlu menyelaraskan proyeksi kebutuhan AI nasional dengan kesiapan infrastruktur digital dan energi agar investasi BUMN dapat memberikan nilai strategis yang terukur,” ungkap Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia, Ricardo Irwan Rei.
Direktur NeutraDC, Rakhmad Tunggal Afifuddin, memaparkan kesiapan infrastruktur AI data center NeutraDC serta strategi phasing pengembangan menuju kapasitas 1 GW. “Inisiatif ini termasuk juga strategi tiga wilayah (3-region strategy) untuk mendukung pemerataan kapasitas komputasi AI di berbagai wilayah Indonesia. Strategi ini turut menjadi acuan dalam menyelaraskan proyeksi demand BUMN,” ucap Rakhmad.
Indonesia Jadi Magnet Investasi Data Center
Kapasitas operasional pusat data di Indonesia mengalami kenaikan signifikan pada kuartal II-2026, mencapai 468 megawatt (MW). Potensi kapasitas tambahan diperkirakan mencapai 1.957 MW hingga 2030, melesat dibandingkan semester II-2025 yang masih sekitar 321 MW.
Pemicu pertumbuhan ini antara lain meningkatnya adopsi cloud, percepatan digitalisasi di berbagai sektor, pertumbuhan konsumsi data, kebutuhan AI yang terus meningkat, serta ekspansi massif oleh hyperscaler global yang menyasar pasar Indonesia.
Sepanjang semester I-2026, sejumlah perusahaan seperti Princeton Digital Group (PDG), Digital Edge, ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC), DCI Indonesia, Racks Central, dan Firmus Technologies, mengumumkan pengembangan proyek baru, pendanaan, maupun rencana ekspansi di Jabodetabek dan Batam. Hal ini terungkap dari laporan riset Cushman & Wakefield Q2 2026.
Head of Data Centre, Research & Advisory Asia Pacific Cushman & Wakefield, Pritesh Swamy, mengatakan perkembangan ini mendorong permintaan berkelanjutan terhadap infrastruktur digital di dalam negeri. “Pasar data center Indonesia tengah memasuki fase pertumbuhan baru, di mana konvergensi antara sektor properti, infrastruktur digital, dan investasi modal menciptakan peluang yang semakin besar,” kata Pritesh.
Head of Data Centre Group Asia Pacific, Andrew Green, menambahkan bahwa beban kerja AI dan cloud diidentifikasi sebagai pendorong utama pasokan baru di seluruh Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Kebutuhan ini mempercepat timeline pengembangan di berbagai pasar. “Pemerintah di kawasan juga terus menyelaraskan kerangka kebijakan dengan pengembangan infrastruktur digital, sementara ketersediaan daya, komitmen keberlanjutan, serta pertimbangan regulasi tetap menjadi faktor kunci dalam pemilihan lokasi,” ungkap Andrew.
Ikuti DailyFX.ID
