— Pergantian pucuk pimpinan di Kementerian Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara telah memberikan sedikit kelegaan bagi pasar modal. Namun, perubahan ini dinilai belum cukup untuk mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki tren kenaikan yang baru.

Menurut pengamat pasar modal, Hendra Wardana, kenaikan sementara atau relief rally IHSG pasca-pengumuman pergantian menteri lebih disebabkan oleh kepastian figur. Investor kini tengah menanti bukti nyata bahwa kebijakan fiskal yang akan diambil mampu memulihkan kepercayaan pasar.

“Pasar sudah menyambut pergantian figur, tetapi belum sepenuhnya membeli ceritanya,” ujar Hendra di Jakarta pada Senin (14/9/2026).

Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG tercatat turun tipis 0,1% ke level 6.534. Investor asing juga masih mencatatkan jual bersih (net sell) senilai sekitar Rp 330 miliar.

Hendra menilai Suahasil Nazara memiliki modal pengalaman yang kuat, mengingat posisinya sebelumnya sebagai Wakil Menteri Keuangan. Pengalaman ini membuatnya memahami seluk-beluk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), mulai dari penerimaan, belanja, hingga kebutuhan pembiayaan.

Namun, pengalaman tersebut juga sekaligus menaikkan ekspektasi pasar. Investor kini ingin melihat kemampuan Suahasil dalam merumuskan kebijakan fiskal yang kredibel, konsisten, dan mudah diprediksi.

Hendra memperkirakan level psikologis 6.500 akan menjadi penentu arah IHSG. Selama level ini mampu bertahan, peluang untuk rebound menuju kisaran 6.600–6.700 masih terbuka lebar.

Apabila IHSG berhasil menembus level 6.700 secara meyakinkan, didukung oleh volume transaksi yang meningkat dan kembalinya arus dana asing, maka potensi kenaikan menuju 6.800–6.900 sangat mungkin terjadi.

Sebaliknya, jika level 6.500 kembali tertembus ke bawah, pasar berisiko mengalami konsolidasi yang lebih dalam.

“Saya belum melihat kondisi saat ini sebagai awal dari bullish trend baru. Ini masih fase pembuktian apakah rebound tersebut memiliki fondasi fundamental atau hanya reaksi sesaat terhadap pergantian figur,” jelas pendiri Republik Investor tersebut.

Tekanan dari faktor eksternal juga masih menjadi perhatian. Harga minyak Brent telah menembus US$ 107 per barel, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.669 per dolar AS, dan perubahan ekspektasi suku bunga global membuat investor cenderung lebih berhati-hati.

Rekomendasi Saham

Di tengah kondisi pasar yang dinamis ini, Hendra merekomendasikan sektor perbankan sebagai pilihan utama. Sektor ini dinilai paling responsif dalam menangkap perubahan ekspektasi terhadap perekonomian domestik.

Secara spesifik, ia memberikan rekomendasi trading buy untuk saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan target harga Rp 3.600, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 4.730.

Selain sektor perbankan, Hendra juga merekomendasikan trading buy untuk saham FOLK dengan target harga Rp 316. Untuk saham WIRG, ia menyarankan speculative buy bagi investor agresif dengan target harga Rp 90.

Hendra mengingatkan para investor untuk tidak terjebak dalam euforia pergantian Menteri Keuangan.

“Pasar sudah mendapatkan kepastian figur, tetapi sekarang yang ditunggu adalah kepastian kebijakan. Investor sebaiknya tidak membeli harapan, tetapi membeli bukti,” tutupnya.