DailyFX.ID — Harga tandan buah segar (TBS) sawit sangat bergantung pada kualitas buah yang dihasilkan. Di Bengkulu, TBS yang memenuhi standar kualitas telah ditetapkan seharga Rp3.400 per kilogram. Untuk mencapai standar tersebut dan berpeluang mendapatkan harga yang lebih baik, para pekebun sawit perlu menguasai kemampuan teknis budi daya yang mumpuni.
Kemampuan teknis ini mencakup pemilihan bibit unggul, pemeliharaan tanaman, pemupukan yang tepat, pengendalian gulma, konservasi tanah dan air, serta penerapan praktik pertanian yang baik atau good agricultural practices (GAP). Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui berbagai kelas pelatihan, salah satunya yang diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan).
Kelas pelatihan teknis budi daya ini memiliki peran strategis karena menyentuh langsung fondasi produksi sawit. Diharapkan, pengetahuan yang didapat para pekebun tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diterjemahkan menjadi perubahan praktik nyata saat mereka kembali mengelola kebun.
Menurut Wakil Direktur AKPY, Idum Satia Santi, keberhasilan budi daya sawit di Indonesia ke depan tidak hanya bergantung pada bibit unggul atau pupuk, melainkan juga pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelolanya, termasuk para pekebun.
“Tantangan yang dihadapi para pekebun sawit saat ini semakin kompleks, tidak hanya menyangkut produktivitas, tetapi juga kualitas hasil. Karenanya, keberhasilan sawit Indonesia ke depan itu tidak hanya dipengaruhi oleh bibit unggul atau pupuk saja yang digunakan, tetapi juga ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh SDM,” ujar Idum.
Dari sisi produktivitas, kebun rakyat di sejumlah wilayah masih memerlukan peningkatan. Sebagian tanaman telah memasuki usia tua dan membutuhkan peremajaan. Pekebun juga menghadapi persoalan pemupukan, pemeliharaan, perubahan iklim, hingga tuntutan praktik perkebunan berkelanjutan.
“Produktivitas sawit rakyat tidak semata ditentukan oleh luas lahan, umur tanaman, bibit, atau input produksi. Ada satu faktor yang kerap menjadi penentu di balik semuanya, yakni kemampuan pekebun menerapkan teknik budi daya yang tepat di kebun,” ungkap Idum saat pelatihan bagi pekebun sawit di Bengkulu.
Pelatihan yang diselenggarakan AKPY dengan dukungan BPDP dan Ditjen Perkebunan Kementan ini bertujuan meningkatkan kapasitas SDM untuk mendorong produktivitas sawit rakyat, termasuk kualitas TBS. Sebanyak 100 pekebun dari Kabupaten Seluma, Bengkulu, mengikuti pelatihan teknis budi daya kelapa sawit pada 19-24 Agustus 2026.
Materi pelatihan mencakup aspek-aspek fundamental produktivitas, mulai dari pemilihan bibit, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian gulma, konservasi tanah dan air, hingga penerapan GAP.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, menekankan bahwa peningkatan produktivitas di tingkat kebun harus selaras dengan perbaikan kualitas hasil. Ia menyoroti masih terbatasnya penjualan TBS pekebun di atas Rp3.000 per kg, meskipun harga penetapan TBS provinsi sudah mencapai Rp3.400 per kg. Hal ini menunjukkan peningkatan produksi saja belum cukup.
“Untuk itu, para pekebun juga perlu memastikan TBS yang dihasilkan memenuhi standar kualitas sehingga punya peluang memperoleh harga lebih baik. Pada titik itulah pelatihan teknis budi daya menjadi investasi SDM. Ilmu yang diperoleh di kelas diharapkan berubah jadi keputusan yang lebih tepat di kebun, terutama dalam memilih bahan tanam yang benar, memberikan pemupukan sesuai kebutuhan, menjaga kesehatan tanaman dan tanah, serta menerapkan praktik budi daya yang baik,” kata Sri Herlin.
Ukuran Keberhasilan Pelatihan
Pelatihan teknis budi daya ini diharapkan menjadi awal untuk mendongkrak produktivitas sawit, khususnya di Kabupaten Seluma. Keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi lebih penting lagi adalah perubahan yang terjadi setelah mereka kembali ke kebun.
Dampak yang diharapkan meliputi peningkatan pengetahuan, perbaikan praktik kebun, kenaikan produktivitas, efisiensi biaya, peningkatan kualitas TBS, dan pada akhirnya potensi peningkatan pendapatan pekebun. Ukuran keberhasilan pelatihan bagi pekebun sawit atau sawit rakyat terletak pada perubahan nyata di kebun.
Selanjutnya, tantangan adalah memastikan ilmu yang diperoleh pekebun benar-benar diterapkan di lapangan. Kepala Dinas TPHP Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, menyatakan bahwa peningkatan pengetahuan dan keterampilan pekebun merupakan bagian penting dari upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani.
Pemprov Bengkulu berharap peserta dapat menyerap materi pelatihan dan menerapkannya dalam aktivitas perkebunan sehari-hari. “Kami berharap para pekebun yang ikut pelatihan ini dapat memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya dan bisa diterapkan pada proses perkebunan sehari-hari,” ujarnya.
Pesan serupa disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, Arian Sosial. Pemkab Seluma mendorong peserta memanfaatkan pelatihan sebagai ruang belajar yang menghasilkan perubahan nyata di kebun masing-masing. Budi daya sawit melibatkan serangkaian keputusan penting, mulai dari pemilihan bibit, persiapan lahan, pengaturan jarak tanam, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit.
“Kesalahan pada salah satu tahapan tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman dan waktu pencapaian produksi,” papar Arian Sosial.
Bagi Kabupaten Seluma, pelatihan ini diharapkan tidak hanya berhenti pada peserta yang hadir, tetapi ilmu yang diperoleh dapat dibagikan kembali ke kelompok tani, keluarga, dan pekebun lain di lingkungan mereka. Keberhasilan sebuah pelatihan diukur dari berapa banyak praktik di kebun yang berubah setelah peserta kembali ke lapangan. Jika perubahan itu terjadi secara konsisten, ruang kelas akan menjadi titik awal peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekebun sawit.
Ikuti DailyFX.ID
