— Tim SAR gabungan memperluas cakupan area penyisiran hingga 6.649 nautical mile persegi (NM²) pada hari ketujuh pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Pelaksanaan operasi laut dan udara ini tetap mewaspadai aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih bertahan pada Level III (Siaga).

Kepala Subseksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Banten Rizky Dwianto menyampaikan, berdasarkan laporan Badan Geologi/PVMBG, belum terlihat tanda-tanda erupsi susulan dari Gunung Anak Krakatau. Kendati demikian, pemantauan ketat tetap dilakukan mengingat beberapa jalur penyisiran berada di perairan yang berdekatan dengan kawasan kepulauan vulkanik tersebut.

Penyisiran Ulang Sektor X dan Identifikasi Barang Temuan

Operasi pencarian hari ketujuh mengombinasikan pemantauan arus permukaan laut seluas 4.586 NM² dan pemantauan udara seluas 2.063 NM². Total 18 unit kapal terdiri atas KRI, KAL, RBB, KN SAR, RIB, dan kapal Polairud serta satu helikopter Dolphin HR 3604 milik Basarnas dikerahkan dengan membagi area operasi menjadi enam sektor laut dan satu sektor udara.

Fokus utama penyisiran ulang diarahkan ke Sektor X yang memiliki luas 831 NM². Sektor tersebut mendapat perhatian khusus akibat ditemukannya sejumlah petunjuk awal sejak hari ketiga operasi.

Terkait barang temuan berupa jeriken dan beberapa jaket yang sempat diamankan sebelumnya, hasil identifikasi akhir dari pihak Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) memastikan bahwa barang-barang tersebut bukan milik speedboat maupun rombongan yang sedang dicari.

Kendala Penyelaman dan Rencana Penyisiran Darat

Kondisi cuaca di perairan Selat Sunda selama operasi berlangsung relatif berawan, dengan kecepatan angin berkisar 5-20 knot dari arah tenggara serta ketinggian gelombang antara 0,5 meter hingga 2,5 meter.

Tim SAR belum menerjunkan tim penyelam bawah laut lantaran koordinat pasti keberadaan kapal maupun delapan korban belum terdeteksi. Penggunaan metode penyelaman dinilai belum efektif jika dilakukan di tengah luasnya area pencarian tanpa titik acuan yang pasti.

Sebagai langkah perluasan operasi, tim SAR menyiapkan opsi penyisiran darat yang mencakup wilayah pesisir mulai dari Pantai Carita hingga Pantai Anyer. Penyisiran juga menyasar kawasan kepulauan di sekitar Selat Sunda, seperti Pulau Sangiang, Pulau Rakata Besar, Pulau Panjang, serta Kepulauan di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Keputusan mengenai perpanjangan atau penutupan Operasi SAR akan ditentukan berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh dari pelaksanaan pencarian hari ketujuh.

Insiden hilangnya lima jurnalis dan tiga awak speedboat bermula dari laporan hilang kontak saat berlayar di perairan Selat Sunda pada Senin (7/9/2026). Rombongan tersebut tengah melakukan perjalan lintas pulau sebelum komunikasi terputus sepenuhnya.

Perairan Selat Sunda dikenal memiliki dinamika arus laut yang kuat serta dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik aktif Gunung Anak Krakatau. Keberadaan kawasan kepulauan dan potensi perubahan cuaca yang cepat menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan (search and rescue) di wilayah tersebut.