DailyFX.ID — Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) tengah menjajaki penguatan kerja sama strategis dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia, khususnya dalam sektor mineral kritis. Langkah ini bertujuan untuk mengamankan posisi Indonesia dalam rantai pasok industri masa depan serta memperkuat nilai tawar negara-negara berkembang di pasar pertambangan global.
Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI, Grata Endah Werdaningtyas, menekankan pentingnya kolaborasi ini. Menurutnya, kedua wilayah memiliki potensi besar untuk saling melengkapi sebagai produsen utama komoditas tambang dunia. Kawasan Amerika Latin dan Karibia saat ini menyumbang sekitar 40 persen komoditas tambang global, termasuk 35 persen produksi litium dunia. Selain itu, kawasan tersebut juga mendominasi pasokan niobium, bahan baku penting untuk penguat baja dan superkonduktor, dengan 90 persen produksi berasal dari Brasil.
Di sisi lain, Indonesia memiliki cadangan nikel dan bauksit yang melimpah. Grata menilai bahwa kerja sama dengan negara-negara kaya mineral seperti Brasil dan Chile sangat krusial. Tujuannya adalah agar negara berkembang tidak terus-menerus hanya diposisikan sebagai pemasok bahan mentah, sementara penguasaan teknologi dan pengolahan didominasi oleh negara-negara maju. “Kita perlu bekerja sama dengan mereka. Ketika mereka tidak punya nikel, kita punya nikel. Bagaimana kita mengembangkan rantai pasok sendiri untuk meningkatkan posisi atau standing kita pada keseluruhan industri masa depan ini,” ujar Grata.
Kemlu RI mendorong kemitraan yang berfokus pada peningkatan nilai tambah, investasi pada tahap midstream (pengolahan intermediate), serta pemanfaatan teknologi pertambangan dan energi bersih secara berkelanjutan.
Misi Bisnis INA-LAC 2026 di Santiago
Sebagai langkah konkret, Kemlu RI menginisiasi Misi Bisnis ke Amerika Latin dan Karibia (Indonesia–Latin America and the Caribbean/INA-LAC Business Forum). Forum bisnis ini rencananya akan diselenggarakan di Santiago, Chile, pada 1–2 Oktober 2026. Rangkaian acara akan mencakup forum bisnis khusus sektor energi dan pertambangan, di mana delegasi perusahaan Indonesia akan memaparkan potensi investasi dan proyek kerja sama kepada pelaku industri serta pemangku kebijakan dari Amerika Latin dan Karibia.
Sektor mineral kritis seperti nikel, litium, bauksit, dan niobium menjadi tulang punggung transisi energi hijau global. Komoditas ini sangat vital untuk pembuatan baterai kendaraan listrik (electric vehicle) dan pembangkit energi terbarukan. Lonjakan permintaan dunia memicu perebutan rantai pasok oleh berbagai negara maju.
Selama ini, negara berkembang pemilik cadangan mineral sering kali memiliki posisi tawar yang lemah akibat keterbatasan teknologi pengolahan domestik dan dominasi rantai pasok oleh korporasi global. Kebijakan hilirisasi yang digalakkan Pemerintah Indonesia menjadi momentum penting untuk membentuk konsorsium atau kemitraan antarnegara berkembang (South-South cooperation). Kolaborasi antara Indonesia sebagai pusat mineral di Asia Tenggara dengan negara-negara kaya sumber daya di Amerika Latin diharapkan mampu menciptakan rantai pasok yang independen, adil, berkelanjutan, serta memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.
Ikuti DailyFX.ID
