DailyFX.ID — Bank Indonesia (BI) menyatakan kewaspadaan terhadap potensi dampak eskalasi perang di Timur Tengah terhadap perekonomian global. Lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai US$ 108 per barel sempat menjadi perhatian utama, meskipun kemudian berangsur turun di bawah US$ 100 pada 22 September 2026. Kenaikan harga minyak ini dinilai menambah tekanan terhadap perekonomian global dan pasar keuangan.
Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak dunia. “Tensi perang di Timur Tengah yang kembali meningkat, semakin mendorong tingginya harga minyak,” ujar Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Data dari Oilprice.com menunjukkan bahwa harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh US$ 105,83 per barel pada 15 September 2026, sebelum akhirnya kembali ke kisaran US$ 90 per barel. Hal serupa terjadi pada minyak Brent, yang sempat mencapai US$ 108,75 per barel dan kini bergerak di kisaran US$ 99 per barel.
Destry menambahkan bahwa kenaikan harga tidak hanya terbatas pada minyak, tetapi juga merambah ke sejumlah komoditas lainnya. Fenomena ini diperkirakan akan membatasi prospek pertumbuhan ekonomi global. “Pertumbuhan ekonomi global 2026 diperkirakan masih lemah sekitar 3% dan diikuti tekanan inflasi yang meningkat menjadi sekitar 4%,” ungkapnya.
Tekanan tambahan datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Suku bunga acuan The Federal Reserve atau Fed Funds Rate yang berada di kisaran 3,75%-4% pada September 2026, masih berpeluang mengalami peningkatan lebih lanjut. Kondisi ini turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mempertahankan penguatan dolar AS, yang berakibat pada terbatasnya aliran dana investor ke negara berkembang.
Dampak tekanan global ini juga dirasakan oleh nilai tukar rupiah. BI mencatat bahwa pada 22 September 2026, rupiah berada di level Rp 17.855 per dolar AS, menunjukkan pelemahan sebesar 0,78% dibandingkan akhir Agustus 2026. Namun, pada penutupan perdagangan Rabu (23/9/2026) sore, rupiah berhasil menguat 66 poin atau 0,37% ke level Rp 17.818 per dolar AS. Sebelumnya, pada Selasa (22/9/2026), rupiah ditutup melemah 37 poin atau 0,21% ke level Rp 17.884 per dolar AS.
BI menekankan bahwa kombinasi antara perang di Timur Tengah, tingginya harga komoditas, suku bunga global yang naik, dan penguatan dolar AS memerlukan antisipasi berkelanjutan karena berpotensi menekan nilai tukar dan perekonomian domestik. “Kondisi ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” tutup Destry.
Ikuti DailyFX.ID
