DailyFX.ID — Produktivitas tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sebagian besar perkebunan rakyat masih berkisar 12-15 ton per hektare per tahun. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan perusahaan perkebunan yang umumnya mampu mencapai 24 ton TBS per hektare per tahun. Namun, kesenjangan ini dapat dijembatani melalui perbaikan praktik budidaya, sehingga produktivitas pekebun rakyat berpotensi meningkat hingga 100%.
Peningkatan ini dapat dicapai dengan konsisten menerapkan praktik budidaya yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP). Langkah-langkah tersebut mencakup penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian gulma serta hama dan penyakit, pemeliharaan tanaman yang tepat, hingga proses pemanenan yang sesuai standar.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Jenri Saragih, menyatakan bahwa peningkatan produktivitas menjadi tantangan krusial bagi perkebunan sawit rakyat di wilayahnya. Dengan luas areal sawit sekitar 38.905,5 hektare dan produksi 317.771 ton TBS, produktivitas kebun rakyat di Simalungun masih belum optimal jika dibandingkan dengan perkebunan perusahaan.
“Kesenjangan tersebut dapat dijawab melalui perbaikan praktik budi daya tanpa harus bergantung pada perluasan lahan,” jelas Jenri. Ia menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Simalungun sangat mendukung penyelenggaraan pelatihan teknis budidaya sawit bagi para pekebun.
Pelatihan ini merupakan kerja sama antara PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan). Jenri menekankan pentingnya konsistensi pekebun dalam menerapkan GAP, mulai dari pemilihan benih unggul hingga standar pemanenan.
Sebanyak 126 pekebun sawit dari Kabupaten Simalungun telah mengikuti Pelatihan Teknis Budi Daya Kelapa Sawit Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) Kelapa Sawit 2026 yang diselenggarakan di Medan, Sumatra Utara, pada 13-19 September 2026. Saat membuka pelatihan, Jenri meminta para peserta untuk membawa pulang perubahan nyata dalam pengelolaan kebun.
“Kalau pulang dari sini namun tidak mengubah cara teknis budi daya, yang kita dapat hanya cerita bahwa kita pernah menginap di Hotel Polonia. Tetapi yang harus dibawa pulang itu perubahan cara mengelola kebun,” pesan Jenri. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pelatihan tidak diukur dari jumlah sertifikat yang diterima, melainkan dari perubahan praktik di lapangan setelah peserta kembali ke kebun masing-masing.
Pemkab Simalungun berharap setiap peserta dapat menerapkan setidaknya satu perubahan dalam pengelolaan kebun sawit dan membagikan pengetahuan tersebut kepada pekebun lain di kelompok atau lingkungannya. Harapannya, dampak pelatihan akan menyebar dan menciptakan efek berantai yang positif.
Agus Eko Prasetyo, Manajer Urusan Pelayanan Jasa Konsultasi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang merupakan bagian dari RPN, turut menekankan pentingnya penerapan ilmu setelah pelatihan. Ia mendorong agar teknologi yang diperoleh peserta dipadukan dengan pengalaman lapangan dan disesuaikan dengan kondisi spesifik masing-masing kebun.
“Jangan berhenti pada ilmu pengetahuan. Jangan hanya hadir mengikuti pelatihan, mendapatkan materi dan sertifikat. Informasi dan teknologi yang diberikan silakan dipilih mana yang relevan dan cocok digunakan di kebun masing-masing, kemudian diterapkan,” ujar Agus. Ia menambahkan bahwa pengalaman lapangan pekebun adalah modal penting yang perlu dipadukan dengan teknologi baru untuk menjawab persoalan di kebun.
Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten diyakini dapat memperbaiki pengelolaan kebun dan memberikan dampak ekonomi jangka panjang. Keberhasilan transfer teknologi terlihat ketika pengetahuan tersebut diterapkan dan menghasilkan perubahan nyata di kebun sawit. Pelatihan SDMP 2026 diharapkan menjadi awal dari proses pembelajaran berkelanjutan, di mana pengetahuan tentang benih unggul, pemupukan, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama, hingga pemanenan terus diterapkan dan dibagikan.
Dengan demikian, investasi dalam pengembangan SDMP tidak hanya berhenti pada 126 peserta, tetapi berkembang menjadi pengetahuan yang menyebar luas di tingkat kelompok dan kebun. Ukuran keberhasilan pelatihan pada akhirnya adalah seberapa banyak perubahan positif yang terjadi di kebun, yang diharapkan akan mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan para pekebun sawit.
Ikuti DailyFX.ID
