DailyFX.ID — Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa kontribusi industri halal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp 1.102 triliun. Angka ini setara dengan 50,55% dari total capaian PDB yang dihitung pemerintah.
Agus Gumiwang menyatakan, kontribusi tersebut menegaskan potensi besar industri halal sebagai salah satu pilar ekonomi nasional. Kekuatan ini ditopang oleh pasar domestik Indonesia yang masif dan basis industri yang terus berkembang.
“Kontribusi industri halal terhadap PDB mencapai Rp1.102 triliun, atau sekitar 50,55% dari total capaian PDB,” ujar Agus saat membuka acara Halal Indonesia International Industry Expo di ICE BSD Tangerang Selatan, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, industri halal Indonesia memiliki dua kekuatan utama: pasar domestik yang besar dan basis industri yang sudah mapan. Dengan populasi mencapai sekitar 280 juta jiwa, di mana mayoritas adalah muslim, Indonesia memiliki basis konsumen halal yang sangat signifikan. Estimasi konsumsi rumah tangga masyarakat muslim Indonesia pada semester I-2026 mencapai hampir Rp 6.000 triliun.
“Ini merupakan basis konsumsi atau konsumen halal yang sangat besar,” katanya.
Selain pasar domestik, produk halal Indonesia juga telah menembus pasar global. Nilai ekspor produk halal Indonesia tercatat sebesar US$ 35,72 miliar, sementara nilai impornya mencapai US$ 17,47 miliar.
Pemerintah bertekad untuk terus memperkuat industri dalam negeri agar mampu merebut porsi yang lebih besar dari pasar halal dunia. Agus Gumiwang menargetkan nilai impor produk halal dapat ditekan pada tahun depan.
“Angka impor US$ 17,47 miliar, saya ingin tahun depan turun,” tegasnya.
Potensi pasar halal dunia juga terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025-2026, konsumsi masyarakat muslim dunia pada enam sektor ekonomi syariah diproyeksikan tumbuh dari US$ 2,6 triliun pada 2024 menjadi US$ 3,6 triliun pada 2029.
Besarnya potensi ini mendorong pemerintah menempatkan pengembangan industri halal sebagai bagian integral dari strategi industrialisasi nasional. Melalui peta jalan pengembangan industri halal 2025-2029, Indonesia memproyeksikan diri menjadi pusat industri halal global.
Indonesia di Peringkat Keempat Ekosistem Industri Halal Dunia
Secara keseluruhan, Indonesia menduduki peringkat keempat dunia dalam ekosistem industri halal. Untuk subsektor yang berkaitan langsung dengan manufaktur, Indonesia memimpin di sektor modest fashion, berada di peringkat ketiga untuk makanan halal, serta peringkat keempat untuk farmasi dan kosmetik halal.
Agus Gumiwang menargetkan posisi Indonesia di sejumlah subsektor tersebut dapat terus meningkat dalam dua tahun ke depan.
Pemerintah juga terus memperkuat ekosistem pendukung industri halal melalui pengembangan kawasan industri. Saat ini terdapat empat kawasan industri yang difokuskan untuk mendukung ekosistem tersebut, yaitu Bintan, Sei Mangkei, Jababeka, dan Sidoarjo.
Meskipun demikian, pengembangan industri halal masih menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan tersebut meliputi kesiapan bahan baku dan rantai pasok, integrasi proses produksi, kapasitas ekosistem sertifikasi, hingga harmonisasi regulasi.
Agus menegaskan bahwa sertifikasi halal bukanlah tujuan akhir. Pelaku industri diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas akses pasar, terutama ke pasar internasional.
“Sertifikasi itu bukan tujuan akhir. Pelaku industri juga harus memiliki kapasitas produksi yang lebih baik dan akses pasar yang semakin luas, khususnya pasar-pasar internasional,” pungkasnya.
Ikuti DailyFX.ID
