— Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya tidak akan pernah menyerah menghadapi tekanan maupun aksi militer dari Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan tegas tersebut disampaikan Pezeshkian di New Delhi, India, di sela-sela rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS, Jumat (11/9/2026).

Di hadapan para tokoh agama India, Pezeshkian menyatakan Iran berhasil bertahan dari berbagai bentuk agresi. Presiden Iran itu menekankan, otoritas Iran berdiri di atas prinsip kebenaran dan keadilan sehingga tidak akan tunduk pada intimidasi kekuatan asing.

Pernyataan Pezeshkian mengemuka menanggapi klaim Presiden AS Donald Trump yang mempertahankan keputusan militer AS terhadap Iran sejak 28 Februari 2026. Trump menyebut aksi militer tersebut dilakukan untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Dalam kunjungan perdananya ke India, Pezeshkian menggelar pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi. Dalam diskusi tersebut, PM Modi menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait keselamatan para pelaut serta gangguan pada kebebasan navigasi perdagangan di Selat Hormuz.

Konflik yang memanas di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia yang memisahkan Iran dan Oman, telah menyebabkan lalu lintas kapal niaga melambat drastis. Gangguan ini berdampak langsung pada keselamatan awak kapal, di mana pemerintah India mencatat sedikitnya 10 pelaut warga negaranya tewas akibat serangan terhadap kapal niaga di kawasan tersebut.

Sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, India sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi global. India mengimpor sekitar 85% kebutuhan bahan bakar minyak nasionalnya dan sangat bergantung pada kelancaran jalur distribusi di Selat Hormuz.

Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik ini menjadi perhatian serius bagi kestabilan ekonomi India.

Oleh karena itu, PM Modi kembali menegaskan imbauannya agar seluruh pihak yang berselisih menyelesaikan konflik di Timur Tengah melalui jalur dialog dan diplomasi damai. Pertemuan bilateral kedua pemimpin diakhiri dengan momen keakraban saat Modi dan Pezeshkian berjabat tangan erat, yang dirilis Kedutaan Besar Iran di India sebagai simbol persahabatan bersejarah antara kedua bangsa.

Konflik terbuka yang melibatkan Iran, AS, dan Israel membawa dampak langsung terhadap ketahanan energi dan keselamatan jalur maritim internasional.

Selat Hormuz merupakan titik penyempitan (chokepoint) logistik terpenting di dunia yang dilalui oleh sekitar 20% pasokan minyak mentah global setiap harinya. Gangguan keamanan di jalur ini memicu lonjakan harga minyak mentah dan kenaikan biaya asuransi pelayaran secara global.

Sementara itu, India mengalami dilema ketahanan energi. Negara ini mengandalkan impor dari kawasan Timur Tengah untuk memenuhi mayoritas kebutuhan energi domestiknya. Eskalasi militer yang mengancam keselamatan awak kapal dan kelancaran kapal tangki memaksa pemerintah India untuk mengedepankan pendekatan diplomasi non-blok demi mengamankan pasokan nasional.

KTT BRICS ke-18 di New Delhi menjadi ruang strategis bagi negara-negara anggota untuk membahas stabilitas rantai pasok global, perlindungan navigasi maritim, serta penyelesaian sengketa geopolitik secara damai di luar pengaruh dominasi Barat.