— PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mencetak laba bersih bank only sebesar Rp 35,3 triliun selama Januari hingga Juli 2026. Kinerja ini masih sejalan dengan ekspektasi yang ada, bahkan memunculkan target harga baru untuk saham BBCA.

Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, mengungkapkan bahwa laba bersih BCA hingga Juli 2026 telah memenuhi 58% dari proyeksi MNC Sekuritas untuk tahun 2026 dan 59% dari target konsensus analis. Selama tujuh bulan pertama 2026, laba bersih emiten berkode saham BBCA itu tumbuh 2% secara tahunan atau year on year (yoy).

Khusus pada Juli 2026, laba bersih BBCA mencapai Rp 5,1 triliun. Angka ini meningkat 5% yoy atau 12% secara bulanan atau month on month (mom). Dari sisi pendapatan, net interest income (NII) atau pendapatan bunga bersih BCA meningkat 4% yoy menjadi Rp 7,1 triliun pada Juli 2026. NII juga tumbuh 6% dibandingkan bulan sebelumnya.

Namun, secara kumulatif selama periode Januari-Juli 2026, NII hanya tumbuh 0,3% yoy. “Pertumbuhan kredit sebesar 8% yoy sebagian besar terkompensasi oleh tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM),” jelas Victoria dalam risetnya, dikutip pada Kamis (20/8/2026).

NIM BBCA membaik 30 basis poin (bps) secara bulanan menjadi 5,5% pada Juli 2026, setelah sempat turun ke 5,2% pada Juni 2026. Meski demikian, NIM selama tujuh bulan pertama 2026 masih turun 20 bps yoy menjadi 5,5% dibandingkan 5,7% pada periode yang sama di 2025. “Tekanan margin tersebut masih membatasi laju pertumbuhan pendapatan bunga bersih,” ungkap dia.

Laba Operasional dan Pendanaan BCA

Selanjutnya, laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) tercatat sebesar Rp 6,5 triliun pada Juli 2026. Angka ini meningkat 9% mom, tetapi relatif tidak berubah secara yoy. Perbaikan PPOP ditopang oleh pendapatan non-bunga (non-interest income/non-II) yang meningkat 18% mom atau 10% yoy.

Pertumbuhan pendapatan non-bunga tersebut melampaui kenaikan beban operasional sebesar 8% mom atau 20% yoy. Secara kumulatif selama Januari-Juli 2026, PPOP tumbuh moderat 1% yoy. Sementara itu, cost to income ratio (CIR) meningkat 56 bps yoy menjadi 29,2%, sejalan dengan kenaikan beban operasional yang sebesar 4% yoy.

Dari sisi pendanaan, rasio current account savings account (CASA) atau dana murah dari giro dan tabungan terus membaik menjadi 85,4% pada Juli 2026. Posisi ini meningkat dari 85,2% pada Juni 2026 dan 83,4% pada Juli 2025. Perbaikan CASA BBCA didukung oleh pertumbuhan dana murah sebesar 11% yoy, angka yang jauh melampaui time deposits (TD) atau deposito berjangka yang justru turun 5% yoy.

Target Harga Saham BBCA

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ saham BCA (BBCA) dengan target harga Rp 8.700. Target harga ini mencerminkan valuasi price to book value (PBV) sebesar 3,4 kali untuk estimasi tahun 2026 dan 3 kali untuk proyeksi 2027.

Adapun risiko utama yang perlu diwaspadai adalah jika pertumbuhan kredit lebih lambat dari perkiraan atau potensi memburuknya kondisi ekonomi makro. Sementara itu, pada perdagangan Kamis (20/8/2026), saham BBCA ditutup naik 1,59% ke level Rp 6.400. Dalam sepekan terakhir, BBCA menguat 0,39%.