DailyFX.ID — JAKARTA – Samuel Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan laba PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA pada semester II-2026 akan tetap moderat. Proyeksi ini didasarkan pada perkiraan peningkatan beban operasional dan potensi kenaikan biaya kredit yang bergerak menuju 60 basis poin.
Meskipun demikian, potensi pemulihan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BCA dipandang sebagai faktor penyeimbang utama kinerja bank. Samuel Sekuritas memperkirakan NIM BBCA pada semester II-2026 dapat berada di kisaran 5,5% hingga 5,9%, melampaui panduan manajemen yang ditetapkan antara 5,4% hingga 5,6%.
Perbaikan NIM diperkirakan ditopang oleh kredit yang dibukukan pada kuartal II-2026 dengan tingkat bunga 50–100 basis poin lebih tinggi. Selain itu, pemulihan imbal hasil kredit korporasi dan kenaikan imbal hasil reinvestasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sekitar 60 basis poin secara kuartalan juga berkontribusi positif.
Menyikapi prospek tersebut, Samuel Sekuritas merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp 7.150. Target ini didasarkan pada asumsi rasio P/B (price to book value) sebesar 2,8 kali untuk proyeksi tahun 2026.
Sementara itu, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga yang lebih tinggi, yaitu Rp 9.480. Target ini menggunakan valuasi P/B 3,8 kali untuk proyeksi 2026. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada valuasi P/B 2026 sebesar 2,5 kali.
KB Valbury Sekuritas berpendapat bahwa tekanan harga saham BBCA belakangan ini justru menciptakan peluang investasi yang menarik. Valuasi saham yang diperdagangkan dengan diskon cukup dalam dinilai menguntungkan investor.
Di sisi lain, MNC Sekuritas juga merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp 8.700. Target ini mencerminkan rasio P/B sebesar 3,4 kali untuk estimasi tahun 2026 dan 3 kali untuk estimasi tahun 2027. Kinerja BBCA pada semester I-2026 dilaporkan sesuai ekspektasi, meskipun NIM masih menunjukkan tekanan.
Ikuti DailyFX.ID
