DailyFX.ID — Perubahan iklim kini telah bertransformasi dari sekadar isu lingkungan menjadi ancaman bisnis yang nyata, memberikan dampak langsung pada kinerja finansial perusahaan. Organisasi yang masih berpegang pada pola pikir konvensional berisiko menghadapi peningkatan paparan ancaman, mulai dari gangguan operasional, tekanan regulasi, hingga lonjakan biaya produksi. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai risiko iklim menjadi standar global yang krusial untuk menentukan ketahanan dan keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang.
Komitmen net-zero kini telah mencakup sebagian besar emisi global dan tertuang dalam kebijakan resmi berbagai negara. Meskipun ambisi keberlanjutan global terus menguat, tantangan terbesar bagi para pemimpin bisnis adalah menerjemahkan ambisi tersebut menjadi tindakan nyata yang terukur. Hambatan utama seringkali berasal dari aspek internal, seperti data yang terfragmentasi, kompleksitas pemodelan skenario, dan kesulitan dalam mengkonversi isu iklim ke dalam bahasa finansial. Untuk mengatasi ini, perusahaan didorong untuk menyatukan fungsi keuangan, manajemen risiko, dan keberlanjutan dalam satu forum pengambilan keputusan guna menyusun strategi bisnis yang terkuantifikasi secara akurat.
Kewajiban Regulasi dan Standar Global
Lebih dari sekadar merespons tuntutan pasar, analisis risiko iklim kini telah menjadi kewajiban regulatif. Melalui pilar International Sustainability Standards Board (ISSB), standar IFRS S2 mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan risiko dan peluang terkait iklim, serta dampaknya terhadap model bisnis, rantai nilai, kinerja keuangan, dan ketahanan strategi dalam berbagai skenario iklim.
Di Indonesia, standar global ini telah diadopsi menjadi Pernyataan Standar Pengungkapan Keberlanjutan 2 (PSPK 2) tentang Pengungkapan Terkait Iklim. Aturan ini disahkan oleh Dewan Standar Keberlanjutan Ikatan Akuntan Indonesia (DSK IAI) pada 1 Juli 2025 dan akan berlaku efektif mulai 1 Januari 2027. Mengingat tenggat waktu tersebut, perusahaan dituntut untuk segera membangun tata kelola, strategi, manajemen risiko, serta metrik dan target terukur melalui analisis skenario iklim sejak dini. Tujuannya agar pengungkapan iklim tidak hanya bersifat naratif, tetapi terhubung langsung dengan laporan keuangan.
Dampak Nyata Fenomena Iklim di Indonesia
Urgensi pengelolaan risiko iklim yang terstruktur terlihat jelas pada fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan ekstrem di Indonesia. Dalam kerangka tata kelola global seperti TCFD dan IFRS S2, karhutla menggambarkan dua jenis paparan sekaligus: risiko fisik dan risiko transisi. Dari sisi fisik, kebakaran lahan menyebabkan kerusakan aset operasional, mengganggu kesehatan pekerja akibat kabut asap, dan menurunkan fungsi ekosistem gambut secara berkelanjutan. Dari sisi transisi, perusahaan menghadapi ancaman sanksi hukum, denda pencemaran, serta potensi kehilangan akses pasar global akibat penerapan regulasi deforestasi yang kian ketat.
Strategi Komprehensif untuk Ketahanan Bisnis
Guna melindungi organisasi dari ancaman-ancaman tersebut, perusahaan dapat segera menerapkan kerangka evaluasi risiko iklim yang lebih komprehensif. Langkah awal yang krusial adalah menetapkan pengawasan di tingkat direksi dan mengimplementasikan no-burning policy (kebijakan tanpa bakar) yang tegas. Selanjutnya, perusahaan harus mengidentifikasi area rentan melalui analisis spasial berbasis data satelit dan pemodelan skenario iklim. Melalui proses uji ketahanan (stress test) terhadap skenario emisi tinggi maupun skenario transisi regulasi yang ketat, perusahaan mampu mengukur potensi dampak keuangannya. Seluruh temuan tersebut kemudian dituangkan ke dalam rencana transisi yang terintegrasi dan dilaporkan secara transparan untuk menjaga kepercayaan investor.
Johan Sebastian, Risk Advisory Service Partner BDO di Indonesia, menyatakan bahwa penilaian risiko iklim bukan sekadar tindakan defensif untuk memenuhi kepatuhan regulasi. “Ini adalah alat navigasi strategis untuk mengidentifikasi di mana bisnis Anda dapat unggul dan memenangkan persaingan di tengah perubahan ekonomi global. Ketahanan bisnis masa depan ditentukan oleh seberapa cepat dan tepat keputusan yang kita ambil hari ini,” katanya dalam keterangan resmi dikutip Rabu (16/9/2026).
Keberhasilan agenda keberlanjutan ini sangat bergantung pada kemampuan organisasi dalam mengelola perubahan internalnya. Kunci utamanya meliputi penunjukan komunikator andal yang mampu menerjemahkan istilah teknis menjadi wawasan bisnis, penerapan pendekatan adaptif secara bertahap, dan pembentukan forum internal untuk memastikan keterlibatan seluruh pihak. Dengan mengadopsi langkah-langkah proaktif ini, penilaian risiko iklim tidak lagi menjadi beban kepatuhan semata, melainkan bertransformasi menjadi alat navigasi strategis yang akan melindungi aset, mengendalikan biaya masa depan, dan memastikan kemenangan di tengah persaingan ekonomi global.
Ikuti DailyFX.ID
