— Indeks-indeks saham Wall Street mencatat kenaikan pada perdagangan Selasa (25/8/2026). Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite ditopang oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS), sementara Dow Jones mencatatkan penguatan selama tiga sesi berturut-turut.

Indeks S&P 500 naik 0,32% mencapai 7.677,28, dan Nasdaq Composite menguat 0,66% ke angka 26.151,30. Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 160,24 poin atau 0,3% menjadi 53.577,40. Penguatan ini menandai kenaikan Dow Jones selama tiga sesi beruntun.

Sentimen pasar mendapatkan dorongan positif dari penurunan yield obligasi pemerintah AS. Yield Treasury 10 tahun terpantau turun lebih dari 7 basis poin menjadi 4,625%.

Melemahnya yield obligasi AS terjadi setelah CNBC melaporkan pada Senin (24/8/2026) bahwa Departemen Keuangan AS berpotensi menggunakan dana dalam Treasury General Account senilai sekitar US$1 triliun untuk membiayai pembelian kembali obligasi.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami penurunan lebih dari 3% pada hari Selasa.

Saham-saham semikonduktor menjadi penggerak utama indeks Nasdaq menjelang laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan rilis setelah penutupan perdagangan Rabu (26/8/2026).

Saham Nvidia melonjak 2%, mengakhiri tren penurunan selama tujuh sesi perdagangan sebelumnya. Saham Advanced Micro Devices (AMD) juga mengalami lonjakan 4,9%, sementara Micron Technology naik 2,5%.

Pergerakan saham chip ini menjadi perhatian investor karena kinerja Nvidia dan prospek bisnisnya dinilai dapat memberikan gambaran mengenai keberlanjutan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).

Sebaliknya, sektor konsumer menjadi salah satu penekan pasar. Saham Dick’s Sporting Goods anjlok hampir 30% setelah melaporkan kinerja yang mengecewakan. Penurunan ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah perdagangan saham perusahaan tersebut.

Saham Walmart tercatat turun 1%, sementara Target merosot hampir 4%.

Kepercayaan Konsumen Melemah

Sentimen investor juga tertekan oleh data kepercayaan konsumen AS yang lebih lemah dari perkiraan serta memburuknya konflik perdagangan antara AS dan Kanada.

Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board turun 0,8 poin menjadi 89,4 pada Agustus, angka ini berada di bawah konsensus Dow Jones yang memprediksi 90,2. Konsumen menunjukkan pandangan yang semakin pesimistis terhadap kondisi ekonomi dalam jangka panjang.

Kanada pada Selasa mengumumkan pemberlakuan tarif balasan terhadap AS. Pemerintah Kanada menyatakan akan menyamai tarif 50% yang dikenakan Presiden Donald Trump terhadap Kanada pada akhir pekan secara ‘dolar untuk dolar’.

Meskipun demikian, Bret Kenwell, analis investasi eToro US, berpendapat bahwa pelemahan sentimen konsumen belum tentu menjadi masalah besar bagi pasar selama masyarakat masih mempertahankan tingkat belanja mereka.

“Pasar dapat mengabaikan suasana hati yang buruk. Namun, pasar tidak dapat mengabaikan konsumen yang benar-benar berhenti berbelanja,” ujar Kenwell.

Investor kini menantikan data personal consumption expenditure (PCE) price index untuk Juli yang akan dirilis Rabu (26/8/2026). Data ini merupakan salah satu indikator inflasi utama yang menjadi perhatian The Fed.

Pasar juga bersiap menanti pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium tahunan Jackson Hole yang dijadwalkan pada Jumat (28/8/2026). Pernyataan Warsh berpotensi menjadi katalis penting bagi pasar karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS.

Pidato tersebut berlangsung sepekan setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana menggandakan ukuran pembelian kembali obligasi, sebagai bagian dari upaya menekan yield Treasury berjangka panjang.