DailyFX.ID — JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi rentan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Pelemahan ini terjadi meskipun ada indikasi meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Pada penutupan perdagangan Rabu (26/8/2026), rupiah tercatat ditutup melemah tipis 2 poin (0,01%) ke level Rp 17.725 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.723 per dolar AS. Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang garuda akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp 17.720 – Rp 17.760 per dolar AS untuk perdagangan besok.
Ibrahim menjelaskan, tren pelemahan rupiah diprediksi berlanjut meski pasar mencatat adanya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran di Timur Tengah. Faktor lain yang turut menekan rupiah adalah sinyal penahanan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) yang diungkapkan oleh sejumlah pejabat bank sentral AS.
“Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole dapat memberikan indikasi yang lebih jelas mengenai pandangan The Fed terhadap keseimbangan antara inflasi yang persisten dan prospek ekonomi secara keseluruhan. Pidato tersebut sangat penting karena para pelaku pasar menantikan kejelasan lebih lanjut mengenai kapan The Fed bersedia menyesuaikan kebijakan sebagai respons terhadap inflasi,” papar Ibrahim. Ia menambahkan, pidato Warsh berpotensi menjadi sinyal penting bagi pasar.
Dari sisi domestik, rupiah juga diprediksi tertekan menyusul pernyataan Pejabat Gubernur Sementara (Pgs) Bank Indonesia, Destry Damayanti, yang menyebutkan bahwa kinerja perekonomian domestik masih belum optimal. Pasar juga tengah menanti sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan depan, termasuk data inflasi bulan Agustus, kinerja perdagangan bulan Juli, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia, Cadangan devisa, dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Ikuti DailyFX.ID
