DailyFX.ID — Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Selasa, 25 Agustus 2026. Rupiah ditutup melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke posisi Rp 17.723 per dolar AS, beranjak dari penutupan sebelumnya di Rp 17.721 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menguraikan sejumlah faktor eksternal dan internal yang berkontribusi terhadap pelemahan mata uang Garuda ini.
Dari faktor eksternal, pelemahan rupiah terjadi setelah Amerika Serikat mengumumkan perluasan sanksi terhadap Iran. Langkah ini bertujuan untuk memutus pergerakan ekonomi Iran dalam upaya mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga mengindikasikan bahwa AS mendorong berbagai negara untuk memutuskan hubungan bisnis dengan Iran. Negara-negara yang tidak patuh berisiko dikeluarkan dari sistem keuangan berbasis dolar. Namun, Bessent tidak merinci daftar negara yang menjadi sasaran, dengan alasan memberikan waktu bagi negara-negara tersebut untuk mematuhi arahan baru.
Selain itu, rupiah juga tertekan setelah Bessent menyatakan kesiapannya untuk memperluas pembelian kembali utang berjangka panjang. Meskipun demikian, ia tidak memberikan indikasi langkah tambahan baru pada hari Senin.
Sementara itu, dari sisi internal, rupiah melemah meskipun Fitch Ratings menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada tahun 2027 lebih realistis dibandingkan target pemerintah yang ingin mendorong pertumbuhan hingga 8% dalam jangka menengah. Target pemerintah tersebut diketahui masih berada di atas proyeksi Fitch.
Saat ini, Fitch masih memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh di kisaran 5% pada tahun 2027.
Ikuti DailyFX.ID
