DailyFX.ID — Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Pada penutupan sore hari, mata uang Garuda tercatat melemah 27 poin atau 0,15% ke posisi Rp 17.721 per dolar AS, beranjak dari penutupan sebelumnya di Rp 17.694 per dolar AS.
Menurut Ibrahim Assuaibi, Direktur PT. Traze Andalan Futures, pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen geopolitik di Timur Tengah yang kembali menjadi sorotan pasar. Amerika Serikat mengindikasikan akan mengumumkan sanksi keras terhadap Iran, menyusul sinyal sanksi ekonomi yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Pernyataan ini mendapat respons keras dari Iran, meskipun Presiden Masoud Pezeshkian mengupayakan solusi diplomatik.
Selain itu, rupiah juga tertekan oleh data aktivitas bisnis sektor jasa Amerika Serikat yang menunjukkan kinerja solid. Indeks PMI Jasa S&P Global AS untuk bulan Agustus melampaui perkiraan dengan mencapai 56,8, level tertinggi sejak Desember 2024, dan meningkat signifikan dari 54,6 pada bulan sebelumnya. Namun, Ibrahim mencatat bahwa PMI Manufaktur justru melambat dari 53,9 menjadi 53,2, level terendah dalam lima bulan terakhir.
Kekhawatiran mengenai inflasi akibat kenaikan harga energi di tengah ketegangan Timur Tengah yang berlanjut turut meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), yang juga berdampak pada pergerakan rupiah.
Dari sisi domestik, pasar merespons negatif terhadap rilis data defisit transaksi berjalan Indonesia yang melebar signifikan pada triwulan II 2026. Defisit tercatat sebesar US$ 12,5 miliar atau 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB), sebuah peningkatan tajam dibandingkan defisit US$ 3,6 miliar atau 1% PDB pada triwulan sebelumnya.
Ikuti DailyFX.ID
