— Nilai tukar rupiah (IDR) diproyeksikan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026. Pada perdagangan Selasa sore (25/8/2026), rupiah ditutup melemah tipis 2 poin (0,01%) ke level Rp 17.723 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp 17.721 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa mata uang rupiah diperkirakan akan berfluktuasi namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.730 – Rp 17.750 per dolar AS pada perdagangan Rabu.

Ibrahim membeberkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen eksternal, terutama langkah Amerika Serikat yang memperluas sanksi ekonomi terhadap Iran. Meskipun Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa AS tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap Iran, negara tersebut kini lebih mengandalkan tekanan ekonomi. Langkah ini, menurut para analis, telah meredakan kekhawatiran mengenai ancaman terhadap pasokan minyak Timur Tengah akibat perang.

Selain itu, Ibrahim juga memprediksi rupiah akan melanjutkan pelemahannya setelah pengumuman Bessent mengenai rencana AS memperluas pembelian kembali utang berjangka panjang. “Saat ini, investor menantikan data inflasi AS mendatang dan pidato pertama Warsh di Jackson Hole. Kondisi inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi akan kebijakan The Fed yang lebih longgar,” kata Ibrahim.

Dari sisi internal, pelemahan rupiah diperkirakan akan berlanjut meskipun Fitch Ratings menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2027 cukup realistis dibandingkan target pemerintah sebesar 8%. Ibrahim menambahkan, “Terdapat sejumlah risiko yang dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan. Ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan, potensi kembali meningkatnya harga minyak dunia, serta perlambatan tajam ekonomi negara-negara mitra dagang utama Indonesia menjadi sejumlah risiko penurunan.”