— Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan tercatat di level Rp 17.855 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 22 September 2026. Menghadapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah stabilisasi demi menjaga kestabilan nilai tukar di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global dan penguatan dolar AS.

Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah pada tanggal tersebut mencapai 0,78% dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2026. Sebelumnya, rupiah sempat menunjukkan penguatan pada periode Agustus hingga pertengahan September.

“Nilai tukar rupiah pada 22 September 2026 tercatat 17.855 per dolar AS, melemah terbatas 0,78 percentage point dibandingkan dengan level akhir Agustus 2026,” ujar Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Namun, pada penutupan perdagangan sore hari yang sama, rupiah berhasil ditutup menguat 66 poin atau 0,37% ke level Rp 17.818 per dolar AS. Posisi ini berbeda dengan penutupan hari sebelumnya, Selasa (22/9/2026), yang berakhir melemah 37 poin (0,21%) di angka Rp 17.884 per dolar AS.

Destry memaparkan bahwa tekanan terhadap rupiah meningkat seiring dengan gejolak ekonomi global. Bank Indonesia mencatat adanya peningkatan tensi perang di Timur Tengah, sementara kebijakan moneter di sejumlah negara besar masih menunjukkan tren pengetatan.

Suku bunga acuan Amerika Serikat, atau Fed Funds Rate, berada di kisaran 3,75%-4% pada September 2026 dan masih berpeluang untuk kembali meningkat. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengalami kenaikan, yang berimplikasi pada terbatasnya minat investor global untuk menempatkan dana di negara berkembang.

Kondisi tersebut menyebabkan indeks dolar AS tetap kuat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang. “Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah akan terus diperkuat di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang cukup tinggi,” tegas Destry.

Bank Indonesia akan mengoptimalkan seluruh instrumen moneternya untuk menjaga stabilitas rupiah. Upaya stabilisasi dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing (valas). Intervensi ini mencakup transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai strategi dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Destry.

Selain intervensi pasar valas, BI juga memperbesar insentif transaksi lindung nilai untuk mendorong masuknya pendanaan dari luar negeri. Cakupan transaksi yang memperoleh insentif diperluas, dari yang sebelumnya hanya mencakup investasi portofolio, kini juga meliputi pinjaman luar negeri perbankan dan investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).

Untuk transaksi swap beli lindung nilai kepada BI, terjadi peningkatan pengurangan premi. Pengurangan premi kini menjadi 15% untuk tenor tiga bulan, 20% untuk tenor enam bulan, dan 25% untuk tenor 12 bulan. Sebelumnya, pengurangan premi hanya ditetapkan sebesar 12,5% untuk seluruh tenor.

Langkah-langkah ini diarahkan untuk meningkatkan aliran modal asing sekaligus menambah pasokan valuta asing di dalam negeri. Pada triwulan III-2026 hingga 21 September, investasi portofolio asing mencatat net inflow sebesar US$ 0,4 miliar, yang ditopang oleh penerbitan obligasi global pemerintah dan aliran dana ke Surat Berharga Negara (SBN).

Ketahanan eksternal Indonesia juga ditopang oleh cadangan devisa yang tercatat sebesar US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Jumlah ini setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional yang berkisar pada tiga bulan impor.

Destry optimistis bahwa rupiah dapat kembali bergerak stabil. Hal ini didukung oleh kebijakan stabilisasi yang dijalankan, imbal hasil investasi domestik yang menarik, inflasi yang masih berada dalam sasaran, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik.

“Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak stabil didukung oleh komitmen Bank Indonesia serta imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik,” tutupnya.