— Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menunjukkan pergerakan pasar yang tak terduga. Pada perdagangan Rabu (16/9/2026), saham emiten Grup Bakrie dan Salim ini mencatat *net sell* investor asing senilai Rp 100,53 miliar. Perubahan ini kontras dengan sehari sebelumnya, Selasa (15/9/2026), di mana BUMI justru mencetak *net buy* investor asing dengan jumlah yang sama.

Akibatnya, harga saham Bumi Resources anjlok 2,88% ke level Rp 202 pada penutupan perdagangan kemarin. Total 2,46 miliar saham ditransaksikan dalam 35.862 frekuensi, dengan nilai transaksi mencapai Rp 502,5 miliar. Dalam sepekan terakhir, saham BUMI telah terkoreksi 9,01% dengan akumulasi *net sell* investor asing sebesar Rp 136,14 miliar.

Meskipun demikian, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai valuasi Bumi Resources saat ini berada pada posisi yang menarik. Dengan rasio *Price to Earnings* (PE) 37x dan *Price to Book Value* (PBV) 2,5x, valuasi BUMI saat ini relatif *undervalued* jika dibandingkan dengan median historisnya yang berada di angka 161x.

Situasi ini dinilai jarang terjadi. BRIDS menjelaskan bahwa pertumbuhan laba BUMI yang hampir tiga kali lipat pada semester I-2026 didorong oleh kombinasi harga batu bara yang tinggi dan kontribusi signifikan dari *joint venture*, terutama KPC. “Bisnis inti batu bara BUMI masih jadi mesin pertumbuhan utama meski aktif diversifikasi,” terang BRIDS.

BRIDS menambahkan, valuasi PE 37x yang jauh di bawah median historis 161x mengindikasikan saham BUMI telah mengalami *de-rating* signifikan. Hal ini memberikan ruang untuk *re-rating* apabila momentum *earnings* batu bara tetap kuat dan integrasi bisnis mineral baru mulai memberikan kontribusi.

Perubahan strategis BUMI juga terlihat dari akuisisi yang dilakukan melalui anak usahanya di Australia, Bumi Resources Australia Pty Ltd (BRA). Pada 4 September 2026, BRA menyelesaikan transaksi akuisisi 100% saham Loyal Metals Ltd senilai Rp 1.004.742.244.136,50 atau setara AUD 79.069.731,75. Langkah ini menegaskan komitmen perseroan untuk mendiversifikasi portofolio bisnisnya.

Analis MNC Sekuritas, Raka Junico W dan Muhamad Rudy Setiawan, melihat potensi peningkatan kontribusi bisnis mineral sebagai pendorong utama pertumbuhan Bumi Resources dalam beberapa tahun ke depan. Mereka memperkirakan titik akselerasi pertumbuhan akan mulai terlihat pada 2028.

Pada periode tersebut, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) BUMI diproyeksikan melonjak 71,2% secara tahunan (yoy). Kenaikan ini diperkirakan terjadi seiring dengan peningkatan kapasitas operasi pabrik *carbon in leach* (CIL), fasilitas pengolahan emas milik PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

MNC Sekuritas mengestimasikan pendapatan BUMI secara grup akan tumbuh dengan *Compound Annual Growth Rate* (CAGR) empat tahun sebesar 10% hingga mencapai US$ 2,6 miliar pada 2030. EBITDA perusahaan diproyeksikan meningkat dengan CAGR 28,2% menjadi US$ 562,1 juta.

Prospek positif ini ditopang oleh karakter bisnis mineral yang memiliki tingkat keuntungan lebih tinggi dibandingkan batu bara. Pada semester I-2026, segmen mineral menyumbang 12% terhadap pendapatan grup, namun memberikan kontribusi 31,5% terhadap gabungan laba operasi segmen. Margin segmen mineral tercatat sebesar 29,5%, hampir tiga kali lipat margin bisnis batu bara yang sebesar 8,8%.

Para analis menilai pasar masih cenderung memandang BUMI sebagai produsen batu bara semata, padahal porsi nilai aset perseroan semakin bergeser ke bisnis mineral. Sejak 2025, Bumi Resources telah aktif membangun sumber pertumbuhan kedua melalui akuisisi Wolfram dan Loyal Metals (masing-masing 100% kepemilikan), Jubilee Metals (64,98%), serta rencana akuisisi 45% saham Laman Mining.

Akuisisi tersebut dibiayai menggunakan arus kas dari bisnis batu bara dan hasil penerbitan obligasi senilai Rp 1,9 triliun, tanpa penerbitan saham baru. MNC Sekuritas juga mencatat bahwa kontribusi Wolfram dan Jubilee belum dimasukkan dalam proyeksi kinerja, sehingga kedua aset tersebut masih membuka potensi tambahan terhadap estimasi saat ini.

Meskipun telah melakukan diversifikasi, BUMI masih memiliki cadangan dan sumber daya batu bara terbesar di Indonesia dengan total 9,1 miliar ton. Aset batu bara ini tersebar di PT Kaltim Prima Coal (KPC) dengan kepemilikan 50,99%, PT Arutmin Indonesia 90%, dan Pendopo 84,48%. Pada 2025, volume penjualan batu bara grup diproyeksikan mencapai 74,7 juta ton.

MNC Sekuritas menilai BUMI berada pada posisi menguntungkan terkait sejumlah kebijakan pemerintah di sektor batu bara. Kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) estimasi tahun 2026 yang dipangkas 24% menjadi 600 juta ton tidak berlaku bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), termasuk KPC dan Arutmin.

Selain itu, skema royalti bagi pemegang IUPK berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2025 memberikan penghematan US$ 12 per ton pada Harga Batubara Acuan (HBA) US$ 127 per ton. Kenaikan *domestic market obligation* (DMO) menjadi 30% juga dinilai tidak menjadi persoalan, karena porsi penjualan domestik BUMI sudah berada di kisaran tersebut.

Mempertimbangkan prospek yang cerah, MNC Sekuritas memulai cakupan saham BUMI dengan rekomendasi *buy* dan target harga Rp 300. Target harga ini mengimplikasikan rasio EV/EBITDA sebesar 31,9 kali untuk estimasi 2026 dan 23,4 kali untuk proyeksi 2027.

Target harga tersebut menggunakan metode valuasi *sum of the parts* (SOTP), yang menggabungkan *discounted cash flow* (DCF) untuk tambang yang telah menghasilkan arus kas, dengan valuasi EV/resource untuk aset yang masih dalam tahap pengembangan.

MNC Sekuritas melihat peluang utama Bumi Resources bertumpu pada perubahan komposisi nilai aset dari batu bara menuju mineral. Namun, terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, termasuk potensi keterlambatan proyek, kinerja aset mineral di bawah ekspektasi, perubahan regulasi dan perizinan, serta harga komoditas yang lebih rendah dari perkiraan.