— PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada Agustus 2026. Laba bersih tercatat tumbuh 13% secara tahunan menjadi Rp4,9 triliun, mendorong total laba bersih mencapai Rp40,2 triliun atau naik 3%. Pertumbuhan ini lebih pesat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya mencapai 5%.

Menurut catatan Verdhana Sekuritas, kinerja kuat BBCA di Agustus 2026 ini menjadikan perseroan berada di jalur yang tepat untuk mencapai proyeksi laba setahun penuh. Hingga Agustus 2026, laba yang dicapai telah mencapai 69% dari target tahunan.

Kenaikan laba ini didukung oleh stabilnya Net Interest Margin (NIM) di angka 5,6%. Hal ini didorong oleh kenaikan imbal hasil aset sebesar 10 basis poin menjadi 6,6%, sementara biaya dana hanya tercatat 1,1%. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (cost ratio) BBCA juga sangat efisien, hanya 19%, jauh lebih rendah dibandingkan bank-bank besar lainnya yang rata-rata berkisar 35-45%.

Pendapatan bunga bersih pada Agustus 2026 tercatat naik 8% menjadi Rp7,1 triliun, sehingga totalnya mencapai Rp53,8 triliun atau tumbuh 1%. Laba bersih sebelum penyusutan juga naik 4% menjadi Rp6,4 triliun, dengan total akumulasi Rp51,5 triliun atau naik 2%.

Pertumbuhan Kredit dan Rekomendasi Analis

Dari sisi neraca, pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) masing-masing mencapai 11% dan 3%. Rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) BBCA pun tercatat naik 2% menjadi 81%.

Verdhana Sekuritas memprediksi pertumbuhan kredit BBCA akan terus meningkat sepanjang 2026, diperkirakan berkisar antara 8-10%. Kenaikan DPK ditopang oleh kinerja kuat dari beberapa produk tabungan yang ditawarkan.

Berdasarkan analisis tersebut, Verdhana Sekuritas menetapkan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBCA dengan target harga Rp10.100. Target harga ini setara dengan Price to Book Value (PBV) 4,1 kali dari posisi saat ini 3,3 kali, serta Price to Earnings Ratio (PER) 2026 sebesar 20,8 kali dari saat ini 16,9 kali. Dengan target tersebut, potensi keuntungan investor diperkirakan mencapai 59% dari harga penutupan terakhir di Rp6.350.