— Serangan drone pada Jumat (11.09.2026) telah menghentikan operasional jaringan pipa minyak utama Arab Saudi yang menghubungkan wilayah timur negara itu ke Laut Merah. Gangguan ini berpotensi mengurangi hingga 4% pasokan minyak dunia jika operasional pipa tidak segera pulih dalam beberapa hari ke depan.

Pipa yang dikenal sebagai pipa timur-barat ini memiliki kapasitas mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari (bph) menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 4% dari total pasokan minyak global. Para pembeli dan pedagang minyak Saudi memperkirakan stok di Yanbu saat ini hanya cukup untuk mempertahankan ekspor selama lima hingga tujuh hari.

Meskipun Arab Saudi masih memiliki persediaan di pelabuhan Ain Sukhna dan Sidi Kerir di Mesir, stok di fasilitas tersebut tidak dalam kondisi penuh. Pasokan dari sana akan terus berkurang jika pipa timur-barat belum kembali beroperasi. Perkiraan waktu perbaikan pipa bervariasi, dengan satu sumber menyebutkan bisa memakan waktu lima hingga enam minggu, sementara sumber lain memperkirakan sebagian aliran dapat kembali lebih cepat.

Pemerintah Arab Saudi dan Kementerian Energi belum memberikan rincian mengenai tingkat kerusakan maupun waktu pasti pemulihan jalur vital ini. Gangguan ini dapat memperburuk tekanan pasokan minyak global yang sebelumnya sudah meningkat akibat terganggunya aliran melalui Selat Hormuz dan Laut Merah.

Selama enam bulan terakhir, pipa timur-barat menjadi jalur krusial bagi Arab Saudi untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, yang mengalami penurunan lalu lintas minyak akibat konflik di kawasan. Saat ini, aliran minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan hanya sekitar 6 juta hingga 9 juta bph, turun drastis dari sekitar 22 juta bph sebelum perang.

Sebelumnya, Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan bahwa pasokan minyak Arab Saudi pada Agustus turun ke level terendah dalam lebih dari tiga dekade. Produksi Arab Saudi dilaporkan kepada OPEC turun menjadi 6,2 juta bph pada Agustus, dari 10,9 juta bph pada Februari. IEA memperkirakan pasokan minyak dunia tahun ini dapat turun sekitar 5,7 juta bph atau sekitar 6%.

Tekanan terhadap pasokan semakin bertambah setelah kelompok Houthi di Yaman dilaporkan merebut sebuah pulau di mulut Laut Merah pada Jumat. Gangguan pasokan ini telah mendorong harga bahan bakar global ke level tertinggi, memperkuat tekanan inflasi, serta mengangkat imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi sejak krisis keuangan 2008.