DailyFX.ID — Siloam Hospitals terus berupaya memperkuat pengembangan layanan neuroscience dengan mengandalkan kemajuan teknologi, kolaborasi multidisiplin, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pengembangan subspesialisasi. Langkah ini diambil seiring memasuki dekade keempat perjalanan layanan neuroscience di jaringan rumah sakit tersebut.
CEO Siloam International Hospitals, Caroline Riady, menekankan bahwa perjalanan selama kurang lebih 30 tahun dalam pengembangan neuroscience tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi dan fasilitas, tetapi juga dari kontribusi dokter, perawat, tenaga kesehatan, dan seluruh tim pendukung. “Kalau kita berbicara mengenai 30 tahun, sebenarnya yang kita bicarakan bukan teknologinya, bukan gedungnya, melainkan orang-orang yang membangun,” ujarnya.
Perjalanan ini dimulai dengan pengembangan tim bedah saraf di Siloam Lippo Village, yang kemudian berkembang ke rumah sakit lain dalam jaringan Siloam, termasuk Kebon Jeruk, TB Simatupang, Medan, dan Bali. Perkembangan layanan ini mencakup aspek klinis, pendidikan, penelitian, dan inovasi dengan fokus utama pada pelayanan yang berpusat pada pasien. “Dampak dari perjalanan 30 tahun ini sudah melampaui satu rumah sakit,” kata Caroline.
Siloam Hospitals Lippo Village dilaporkan telah menangani lebih dari 20.000 kasus neuroscience kompleks, didukung oleh 16 dokter spesialis saraf dan 10 dokter spesialis bedah saraf. Cakupan layanan yang diberikan sangat luas, meliputi neurointervensi, rehabilitasi saraf, neuro-onkologi, penanganan gangguan perilaku dan neurodegeneratif, neurorestorasi, Memory & Aging Clinic, Pain Management, Deep Brain Stimulation (DBS), terapi stroke akut, hingga awake brain surgery.
Caroline menambahkan, “Selama tiga puluh tahun, Siloam Hospitals Lippo Village terus berinvestasi dalam keahlian, teknologi, inovasi, dan kolaborasi untuk memperkuat layanan saraf dan bedah saraf di Indonesia. Kami percaya bahwa kemajuan di bidang ini ditentukan tidak hanya oleh teknologi, tetapi juga oleh kompetensi tenaga kesehatan dan kemampuan menghadirkan inovasi yang berdampak bagi pasien.”
Pengembangan layanan neuroscience di Siloam Hospitals Lippo Village sendiri telah dimulai sejak pembentukan Neuroscience Centre pada tahun 1996. Perjalanan ini turut dirintis oleh Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp.BS (K), PhD, yang juga tercatat melakukan prosedur bedah batang otak pertama di Asia Tenggara.
Teknologi Tingkatkan Presisi
Prof. Dr. dr. Julius July, Sp.BS (K), M.Kes, IFAANS, menjelaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI), robotik, dan teknologi navigasi semakin berperan penting dalam meningkatkan presisi tindakan bedah saraf. Teknologi ini membantu dokter untuk melihat dan memetakan bagian otak yang sulit diamati secara langsung, sehingga operasi dapat dilakukan dengan lebih detail dan meminimalkan kerusakan jaringan.
Perkembangan teknologi juga memungkinkan sejumlah operasi dilakukan melalui akses yang lebih kecil. Prof. Julius mencontohkan penggunaan endoskopi dalam bedah saraf yang memungkinkan tindakan dilakukan melalui akses sekitar dua hingga 2,5 sentimeter pada kasus tertentu. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat berdiri sendiri dan harus dioperasikan oleh tenaga medis yang kompeten dan terlatih.
Prof. Julius juga mendorong agar teknologi medis tidak hanya terpusat di kota-kota besar. “Kalau misalnya ada sesuatu harus terbang ke Jakarta terus, sebetulnya tidak efektif,” ujarnya. Oleh karena itu, kemampuan tenaga medis dan ketersediaan teknologi neuroscience perlu terus dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia untuk pemerataan akses pelayanan. Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi pasien, “Kemajuan neuroscience bukan hanya tentang seberapa jauh teknologi berkembang, tetapi bagaimana perkembangan tersebut dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang lebih tepat, aman, dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien.”
AI Tidak Menggantikan Dokter
Dr. Grace, Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, menyatakan bahwa perkembangan AI tidak bertujuan menggantikan peran dokter, melainkan untuk meningkatkan presisi, mempercepat analisis data, dan mendukung pengambilan keputusan klinis. Teknologi ini juga dapat membantu tindakan dengan sayatan yang lebih kecil, sehingga proses pemulihan pasien berpotensi lebih cepat dan risiko infeksi dapat ditekan.
Pemanfaatan AI dapat membantu dokter dalam proses dokumentasi dan komunikasi dengan pasien, sehingga waktu konsultasi dapat lebih banyak digunakan untuk menggali kondisi pasien dan memberikan penjelasan. Fokus pengembangan teknologi tetap diarahkan pada *clinical outcomes* dan *patient experience*. “Jadi tidak hanya *solve the problem*, tetapi yang kita bangun adalah *build the system*,” tuturnya.
Perkembangan *advanced imaging*, neuromodulasi, AI, *precision medicine*, serta teknologi bedah dinilai membuka peluang diagnosis dan tata laksana yang makin presisi. Di sisi lain, penguatan kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu fokus pengembangan neuroscience.
Prof. Dr. dr. Yusak Mangara Tua Siahaan, Sp.N, Subs. NNK (K), FIPP, CIPS, Chairman The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, mengungkapkan bahwa pelayanan neuroscience saat ini tidak hanya bergantung pada neurologi dan bedah saraf, tetapi juga melibatkan radiologi, neuropatologi, ahli penyakit dalam, rehabilitasi medik, hingga teknologi AI. Perkembangan lintas disiplin ini mengubah proses diagnosis dan terapi, yang kini dapat dilakukan dengan lebih presisi melalui pemeriksaan gejala klinis dan pencitraan, serta terapi neuromodulasi termasuk penggunaan *transcranial magnetic stimulation* (TMS).
Prof. Yusak menegaskan bahwa manfaat teknologi dan kolaborasi tersebut harus tetap bermuara pada pasien. Tema “Beyond Boundaries: Unlocking a New Era of Neuroscience” menggambarkan kebutuhan untuk melampaui batas antardisiplin dan menghubungkan berbagai keahlian serta teknologi. “Masa depan neuroscience membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan pertukaran pengetahuan yang semakin terbuka,” imbuhnya.
Sementara itu, Grace menambahkan bahwa pengembangan tenaga medis menjadi salah satu strategi kunci memasuki dekade keempat layanan neuroscience. Tujuannya adalah untuk memperluas kemampuan dokter di berbagai daerah agar lebih banyak pasien dapat memperoleh layanan yang sesuai, bukan hanya bergantung pada segelintir dokter senior. “Harapannya bukan semakin banyak pasien butuh mereka-mereka saja, tapi bagaimana semakin banyak dokter-dokter yang kemampuannya meningkat,” ujarnya.
Peningkatan kebutuhan penanganan penyakit degeneratif, stroke, tumor otak, serta trauma kepala menjadi pendorong utama pengembangan neuroscience. Grace menilai perubahan gaya hidup dan meningkatnya kasus penyakit neurologis membuat layanan ini semakin dibutuhkan masyarakat.
Ikuti DailyFX.ID
