— LOMBOK TENGAH – Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjadi lokasi simulasi darurat pada Rabu (5/8/2026). Latihan yang dinamakan Airport Emergency Modular Exercise ini menggambarkan skenario tergelincirnya pesawat Boeing 737-800 dengan nomor penerbangan SKT-218 rute Manado–Lombok akibat gangguan sistem hidrolik saat mendarat.

Simulasi ini tidak hanya berfokus pada kecelakaan pesawat semata, tetapi juga menguji alur penerusan alarm darurat, pergerakan personel menuju lokasi kejadian, hingga penanganan medis bagi korban sesuai prosedur dalam Airport Emergency Plan (AEP). Latihan ini merupakan bagian penting untuk memastikan kesiapan operasional bandara.

Skenario dimulai saat pesawat Sekotong Air SKT-218 mendekati BIZAM. Gangguan sistem hidrolik memaksa Air Traffic Control (ATC) menetapkan status Full Emergency atau Siaga II. Situasi kemudian meningkat menjadi Aircraft Accident atau Siaga III setelah pesawat mengalami runway excursion saat mendarat.

Perubahan status ini menjadi kunci dalam latihan, menuntut setiap unsur yang terlibat untuk bergerak sesuai fungsi masing-masing dan menjaga komunikasi antarinstansi.

General Manager BIZAM, Aidhil Philip Julian, menyatakan bahwa latihan ini bertujuan memastikan seluruh personel dan pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama dalam menghadapi kondisi darurat. “Keselamatan merupakan prioritas utama dalam operasional bandar udara. Melalui Airport Emergency Modular Exercise ini kami ingin memastikan seluruh personel dan stakeholder terkait memiliki kesiapan, koordinasi, serta kemampuan merespons keadaan darurat secara cepat, tepat, dan sesuai prosedur,” ujar Aidhil.

Aidhil menambahkan bahwa penanganan kondisi darurat tidak bisa dilakukan oleh satu unit saja. Kecepatan respons sangat bergantung pada koordinasi seluruh unsur dalam sistem penanggulangan keadaan darurat bandara. “Penanganan keadaan darurat hanya dapat berjalan efektif apabila seluruh unsur bekerja sebagai satu tim,” katanya.

Latihan ini menguji tiga modul utama. Modul pertama, Raising the Alarm, berfokus pada penyampaian informasi dan aktivasi respons darurat. Modul kedua, Rendezvous Point (RVP), menguji mobilisasi dan koordinasi sumber daya ke titik yang telah ditentukan. Modul ketiga, Medical Services, menekankan penanganan korban dan dukungan layanan medis.

Ketiga modul ini krusial karena kecelakaan pesawat membutuhkan respons terintegrasi, mulai dari penerimaan informasi cepat, kedatangan personel sesuai prosedur, hingga penanganan korban segera.

Latihan ini melibatkan berbagai unsur dalam Airport Emergency Committee, termasuk AirNav Indonesia Cabang Lombok, Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Mataram, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Keterlibatan ini menguji koordinasi lintas lembaga, yang sangat penting dalam penanganan kecelakaan pesawat yang memerlukan dukungan navigasi, kesehatan, evakuasi, dan pengamanan lokasi.

Setelah simulasi, Tim Evaluasi Terpadu yang terdiri dari PT Angkasa Pura Indonesia, AirNav Indonesia, dan Balai Kekarantinaan Kesehatan melakukan evaluasi untuk mengidentifikasi area yang perlu perbaikan dalam mekanisme penanganan keadaan darurat.

Bagi pengelola bandara, latihan semacam ini menjadi cara mengukur kesiapan personel dan efektivitas penerapan prosedur dalam AEP di situasi kritis. Simulasi ini juga memperkuat koordinasi antarinstansi dan meningkatkan kemampuan personel dalam menghadapi berbagai kemungkinan keadaan darurat.

Yang diuji meliputi kecepatan bergerak, ketepatan komunikasi, pembagian tugas, mobilisasi sumber daya, serta penanganan korban. Evaluasi pasca-latihan menjadi bahan perbaikan untuk menghadapi kondisi sebenarnya, karena keselamatan penerbangan membutuhkan kesiapan yang dibangun melalui prosedur tertulis, latihan, dan koordinasi berkala.

Sebagai gerbang utama transportasi udara di Nusa Tenggara Barat, Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) memegang peranan krusial dalam mendukung mobilitas masyarakat, pertumbuhan ekonomi daerah, hingga sektor pariwisata internasional. Dengan tingginya frekuensi lalu lintas penerbangan dan posisi Lombok sebagai destinasi acara berkelas dunia, jaminan keselamatan dan keamanan operasional penerbangan menjadi aspek yang tidak dapat ditawar.

Latihan penanggulangan keadaan darurat secara berkala ini diselenggarakan untuk memenuhi standar regulasi penerbangan nasional dan internasional, serta memastikan seluruh pemangku kepentingan siap merespons situasi krisis secara sigap dan terintegrasi demi meminimalkan risiko kerugian jiwa maupun material.