DailyFX.ID — JAKARTA – PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) tengah melakukan pergeseran strategis dalam mesin pertumbuhan bisnisnya. Perusahaan ini tidak lagi hanya berfokus pada distribusi bahan baku, melainkan beralih ke pengembangan produk dan solusi bernilai tambah.
Langkah ini diwujudkan melalui perluasan portofolio pada empat divisi utama: bahan baku makanan, perawatan diri dan kosmetik, kimia industri, serta wewangian. Dalam gelaran Public Expose LIVE 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI) baru-baru ini, SMLE memaparkan peta jalan bisnis 2026-2027 yang menekankan pada diversifikasi produk dan penguatan kemitraan dengan prinsipal global, termasuk di sektor food ingredients.
Strategi diversifikasi ini bertujuan membidik segmen pasar dengan peluang aplikasi yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi SMLE di pasar domestik. Direktur Utama SMLE, Siu Min, menjelaskan bahwa untuk lini food ingredients di tahun 2026, perusahaan akan mendorong pengembangan protein susu fungsional, perisa alami, pelapis untuk permen dan cokelat, serta pewarna alami sebagai lini bisnis baru. “Kami juga mendapatkan kemitraan baru untuk produk probiotik, pascabiotik, protein susu kambing, serta solusi penetral rasa pahit,” ujar Siu Min dikutip di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Ekspansi lini produk juga merambah ke divisi Home & Personal Care, Industrial Chemical, dan Fragrances. Transformasi struktural yang sedang dijalani SMLE ini menarik perhatian pasar modal, terutama dengan dinamika harga saham perseroan yang menguat. Perhatian investor kini terfokus pada pergerakan pemegang saham utama dan kesiapan perseroan menyambut mitra strategis baru.
Data registrasi pemegang saham per 31 Agustus 2026 menunjukkan pergeseran kepemilikan. PT Sinergi Asia Corporindo, yang dikendalikan oleh Siu Min, kini memegang 56,73% saham, turun dari sebelumnya di atas 72%. Penurunan ini merupakan hasil dari rangkaian divestasi bertahap sepanjang 2026.
Posisi yang terbuka dari divestasi ini diserap oleh investor perorangan besar, Ferdiansyah, yang kini menggenggam 144,33 juta lembar saham atau 6,20%. Ferdiansyah menjadi pemegang saham individu domestik terbesar di luar pengendali utama. Ia dikenal sebagai politikus senior dan anggota DPR RI sejak 1999, dengan rekam jejak profesional di bidang manajerial perusahaan serta latar belakang pendidikan Magister Manajemen.
Akumulasi saham oleh Ferdiansyah mencerminkan transformasi SMLE dari model bisnis trading bahan baku industri hulu menjadi manufaktur dan formulasi khusus dengan margin yang lebih tebal. Hal ini berpotensi mendongkrak valuasi perusahaan saat ekspansi kapasitas dan penataan ekuitas rampung.
Restrukturisasi kepemilikan ini juga meningkatkan porsi saham publik SMLE secara signifikan hingga mencapai 34,57% atau setara 802,98 juta lembar saham yang tersebar di antara 2.905 pemegang saham. Tingkat likuiditas ini jauh lebih sehat dibandingkan sebelum divestasi. Di kalangan investor publik, Njono Sampoerno menguasai 84,23 juta lembar saham (3,62%).
Selain memperbesar likuiditas perdagangan harian di bursa, kejelasan struktur kepemilikan dan potensi aksi korporasi ini menarik minat investor institusi domestik maupun mancanegara, serta memberikan dorongan positif bagi valuasi saham SMLE. Institusi asing dan reksa dana turut memperbesar posisi mereka, termasuk Phillip Securities Pte Ltd (Singapura, 4,31%), UOB Kay Hian Pte Ltd (Singapura, 3,80%), CGS International Securities Singapore (2,78%), serta Reksa Dana OSO Moluccas Equity Fund (1,21%).
SMLE juga dilaporkan telah menerima Letter of Interest dari sebuah perusahaan investasi yang berminat menjadi investor strategis, yang mengindikasikan kemungkinan pergeseran pengendali perseroan. Dari sisi operasional, SMLE sedang menyiapkan pembentukan usaha patungan (joint venture) dengan mitra asal China yang memiliki keahlian di bidang material biodegradable.
Skema joint venture ini akan menggabungkan teknologi manufaktur mitra China dengan jaringan distribusi nasional SMLE. Fokusnya adalah membidik pasar plastik yang mudah terurai di pasar domestik, yang diproyeksikan tumbuh dari US$44,7 juta pada tahun 2022 menjadi US$178,7 juta pada tahun 2032, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 14,92%.
Ikuti DailyFX.ID
