— JAKARTA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menargetkan mulai 1 Januari 2027, hanya sampah residu yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Untuk mencapai target ini, pemerintah berfokus pada pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumber, terutama sampah organik yang masih mendominasi timbulan sampah di ibu kota.

Saat ini, rata-rata 8.000 ton sampah per hari masih dikirim ke Bantargebang menggunakan sekitar 1.200 truk. Ketua Subkelompok Pemberdayaan Masyarakat DLH DKI Jakarta, Susi Andriani, menyatakan bahwa targetnya adalah sampah yang dikirim ke Bantargebang hanya menyisakan 10% dari total yang biasa dikirim, dan itu pun hanya berupa residu.

Pengurangan sampah dari sumber dinilai sebagai langkah krusial untuk menekan beban Bantargebang. Upaya ini sejalan dengan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah sampah organik yang mencapai sekitar 50% dari total sampah yang dikirim ke Bantargebang.

Oleh karena itu, masyarakat didorong untuk mengelola sampah organik di lingkungan masing-masing melalui berbagai metode, seperti komposter, lubang resapan biopori, biopori jumbo, hingga metode TEBA (pengolahan dengan menempatkan sampah organik ke dalam tanah). Susi meyakini jika inisiatif ini diikuti oleh banyak pihak dan dilakukan secara bersama-sama, minimal 50% sampah sudah dapat dikelola sendiri di dalam wilayah DKI Jakarta.

Upaya mendorong pemilahan dari sumber juga diwujudkan melalui kegiatan SPOGOMI Jakarta 2026 yang digelar di kawasan Jalan Jenderal Sudirman. Ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk pelajar, mahasiswa, pekerja, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat umum, berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan mengumpulkan dan memilah sampah berdasarkan kategorinya. Susi menilai kegiatan semacam ini efektif dalam memperluas keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan sampah.

Dalam kegiatan tersebut, sampah yang dikumpulkan peserta dipilah menjadi beberapa kategori, antara lain residu, botol PET, kardus, serta kaleng atau kemasan logam. Marketing Manager AEON delight Indonesia (PT Sinar Jernih Sarana), Caesario Mi’radz, mengungkapkan bahwa botol PET menjadi salah satu jenis sampah yang paling banyak ditemukan. Kecenderungan serupa juga teramati dalam kegiatan SPOGOMI sebelumnya di Bandung, di mana kategori botol PET mendapat bobot poin lebih besar karena jumlahnya yang signifikan.

Caesario menjelaskan bahwa kegiatan SPOGOMI, yang telah berjalan sejak 2022 dan direncanakan berlangsung secara berkala, tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah, tetapi juga pada pembiasaan memilah sampah serta mengenali jenis sampah yang banyak ditemukan di ruang publik. Perubahan perilaku menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah, karena kebiasaan memilah dapat diterapkan di rumah, tempat kerja, dan lingkungan sekitar. Ia berharap setiap peserta pulang dengan kesadaran baru bahwa sampah yang dihasilkan adalah tanggung jawab bersama.

Menteri Urusan Ekonomi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Kenji Enoshita, menekankan bahwa pengelolaan sampah perlu dibangun dari kebiasaan individu. Edukasi mengenai pemilahan sampah dapat dimulai dari lingkungan terkecil seperti keluarga dan sekolah, sebelum diperkuat melalui sistem dan kolaborasi berbagai pihak. Pendekatan ini relevan karena pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah atau perusahaan; perubahan kebiasaan masyarakat adalah unsur penting agar pemilahan dan pengurangan sampah berlangsung konsisten.

Di sisi lain, DLH DKI juga memperkuat pengelolaan sampah di tingkat wilayah. Jakarta Utara telah ditetapkan sebagai kota percontohan pengelolaan sampah oleh Kementerian Lingkungan Hidup sejak 2025. Di kawasan tersebut, pemerintah mengembangkan RDF Plant Rorotan dan mendorong Gerakan Pilah Sampah yang melibatkan warga, termasuk kader PKK dan masyarakat tingkat RT. Sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos atau pakan maggot, sementara residu dapat diproses lebih lanjut melalui fasilitas RDF.

DLH DKI juga memberikan apresiasi kepada kelompok masyarakat yang aktif dalam pengelolaan lingkungan, seperti bank sampah, pengelola maggot, RW peserta Program Kampung Iklim, serta sekolah Adiwiyata. Kolaborasi dengan sektor swasta dan komunitas diperkuat melalui Forum Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB), termasuk klaster persampahan, yang menjadi wadah bagi berbagai pihak untuk terlibat dalam edukasi dan pengelolaan sampah. Susi menegaskan bahwa keterlibatan banyak pihak sangat penting karena target pengurangan sampah ke Bantargebang tidak hanya bergantung pada kapasitas fasilitas pengolahan, tetapi juga pada kemampuan masyarakat memilah dan mengelola sampah sejak dari sumber.