DailyFX.ID — BATANG – Teknologi padi biosalin dan sistem mina padi salin berhasil mengubah lahan pesisir di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang sebelumnya terkendala salinitas tinggi menjadi produktif. Dari upaya ini, dihasilkan sekitar 166,5 ton gabah kering panen (GKP) dengan nilai ekonomi mencapai Rp1,3 miliar, menunjukkan potensi besar pemanfaatan teknologi pertanian dalam menjaga produktivitas pangan di tengah tantangan perubahan iklim.
Program pengembangan ini merupakan hasil kolaborasi antara PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas Pertamina, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Pemerintah Kabupaten Batang. Lahan pesisir yang sebelumnya tidak produktif selama sekitar enam tahun akibat pengaruh air laut dan rob, kini dapat dimanfaatkan kembali.
Tantangan pertanian pesisir semakin meningkat seiring kondisi iklim kering yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juli–September 2026 diprediksi berada pada kategori El Niño sangat kuat, dan sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau hingga dasarian pertama September.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan bahwa perubahan iklim, abrasi, dan rob menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan pertanian di kawasan pesisir. Ia menekankan pentingnya adaptasi pertanian melalui teknologi yang sesuai dengan karakteristik lahan.
“Pengembangan padi biosalin dan mina salin di Batang menunjukkan bahwa lahan dengan tingkat salinitas tinggi tetap dapat dimanfaatkan secara produktif melalui penerapan inovasi dan teknologi,” ujar Hanif.
Hanif menambahkan, integrasi budidaya padi, ikan, dan rumput laut juga berpotensi dikembangkan sebagai model pertanian pesisir yang adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat.
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, menilai penanganan persoalan pertanian pesisir membutuhkan sinergi lintas sektor. Menurutnya, kondisi lingkungan, teknologi, hingga ekonomi petani harus menjadi pertimbangan dalam mencari solusi.
“Kerja sama pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah sekaligus memberikan manfaat ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, khususnya petani,” kata Faiz.
Anggota Dewan Pengarah BRIN, Tri Mumpuni, menyoroti peran krusial petani dalam penerapan teknologi. Keberhasilan budidaya, menurutnya, tidak hanya bergantung pada rekayasa teknologi, tetapi juga kemampuan petani dalam mengadopsi metode baru di lapangan.
Tri menilai penerapan teknologi pada lahan salin dapat menjadi salah satu pendekatan efektif untuk mempertahankan produksi pangan di wilayah yang menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Perkembangan Padi Biosalin di Jawa Tengah
Pengembangan padi biosalin sebelumnya telah dilakukan di sejumlah wilayah pesisir Jawa Tengah. Sejak Desember 2024, pengembangannya telah mencapai sekitar 232 hektare di Semarang, Jepara, dan Batang.
Di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang, pengembangan dimulai dari sekitar 20 hektare dan meluas hingga 180 hektare. Sementara di Jepara, program yang dimulai pada September 2025 dengan lahan awal sekitar 5 hektare, kini berkembang menjadi sekitar 20 hektare dengan produktivitas berkisar 6–8 ton per hektare.
Benih Padi Biosalin 1 yang dikembangkan dari Semarang juga mulai diperluas ke Kabupaten Kendal dengan luasan sekitar 353 hektare.
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menuturkan pengalaman dari berbagai wilayah menunjukkan pentingnya menyesuaikan model budidaya dengan karakteristik lahan dan kebutuhan masyarakat. PGN bersama BRIN terus mendorong replikasi inovasi ini ke wilayah pesisir lainnya.
“Dari lahan yang menghadapi keterbatasan, kita tumbuhkan produktivitas. Dari inovasi, kita hadirkan solusi. Dan melalui kolaborasi, kita ciptakan keberlanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” ungkap Fajriyah.
Ikuti DailyFX.ID
