— JAKARTA – Operator telekomunikasi dan digital, Telkomsel, mempertegas komitmennya dalam tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) melalui inisiatif Telkomsel Jaga Cita. Komitmen ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan Environmental, Social, and Governance (ESG).

Di bawah payung Telkomsel Jaga Cita, perusahaan memiliki lima pilar yang menyasar berbagai sektor, yakni pendidikan (education), filantropi, community empowering, digital citizenship, serta environment. Melalui program Terpujilah Guru 2026, Telkomsel memfokuskan perhatian pada sektor pendidikan.

Program ini bertujuan mendorong peningkatan kapabilitas dan kompetensi guru di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, terutama kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). VP Corporate Communications & Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, menjelaskan bahwa Terpujilah Guru merupakan salah satu program CSR Telkomsel yang secara khusus menyasar guru sebagai elemen penting dalam ekosistem pendidikan.

“Program Terpujilah Guru ini merupakan salah satu program CSR kita, yang berada di pilar Jaga Cita. Jadi melalui Jaga Cita itu, rasanya paling komplit dan paling fokus terhadap dunia pendidikan, khususnya di bidang CSR ini,” ujar Fahmi di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Program yang diluncurkan pada Mei 2026 itu mendapat antusiasme tinggi, dengan hampir 4.000 guru dari berbagai daerah di Indonesia mendaftarkan diri. Setelah melalui tahapan seleksi, 12 guru terbaik terpilih untuk mengikuti tahap akhir, yang kemudian dikurasi menjadi tiga pemenang.

Fahmi menambahkan, Terpujilah Guru tidak dirancang untuk mengubah silabus atau kurikulum yang digunakan guru. Fokus utamanya adalah meningkatkan kemampuan digital guru agar teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung materi dan metode pembelajaran yang sudah ada.

“Kita hanya memberikan, ingin meng-upgrade capability guru, khususnya di digital. Jadi kita tidak mengubah silabus mereka, tetapi kita meng-enhance di mana silabus mereka bisa dipermudah dengan menggunakan teknologi ataupun dengan menggunakan digitalisasi,” jelasnya.

Literasi AI untuk Pembelajaran

Salah satu teknologi yang diperkenalkan dalam rangkaian program ini adalah AI. Pemanfaatan AI diharapkan dapat membantu guru dalam mengembangkan metode pembelajaran, menyusun materi, serta mempercepat berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan proses belajar mengajar.

Menurut Fahmi, penguasaan teknologi juga dapat memperluas peran guru. Guru diharapkan tidak hanya menjadi pemberi materi, tetapi juga mampu berperan sebagai motivator dan kreator.

“Harapan kami para guru ini tidak hanya sebagai edukator, tapi juga merupakan motivator dan kreator. Sehingga mereka bisa menyebarluaskan ilmu yang dia kuasai ke masyarakat luas,” ungkap Fahmi.

Fahmi juga menungkapkan, keterlibatan guru dalam memahami teknologi digital menjadi kebutuhan yang kian mendesak. “Salah satu latar belakang program ini adalah pemanfaatan AI yang kerap dimulai lebih dulu oleh murid. Kami melihat guru juga harus mengetahui penggunaan AI, khususnya di bidang pendidikan, agar materi pembelajaran tetap relevan dan guru tidak tertinggal dari siswanya,” ungkap Fahmi.

Meskipun tidak berfokus langsung pada aspek kesejahteraan finansial secara umum, Telkomsel memastikan program ini memberikan nilai tambah yang berdampak pada kualitas diri serta profesionalisme para guru.

Menyongsong Indonesia Emas 2045

GM Corporate Social Responsibility Telkomsel, Andry Priyo Santoso, menambahkan bahwa inisiatif di sektor pendidikan ini berfokus untuk mendukung dan menghadirkan pendidikan yang adaptif, inklusif, dan merata di Indonesia.

“Output yang kita harapkan itu, Bapak Presiden punya target itu di 2045, Indonesia harus memasuki fase Indonesia Emas. Kita punya banyak talenta digital, kita mendorong untuk mencapai target tersebut,” ujar Andry.

Andry juga menjelaskan, Telkomsel memiliki concern untuk mengurangi kesenjangan (gap) talenta digital di Indonesia saat ini. Oleh karena itu, program pengembangan dan inovasi di bidang teknologi digital dan AI menjadi bagian dari upaya Telkomsel untuk mengurangi kesenjangan tersebut.

“Gap talenta digital kita masih cukup jauh, saya lupa berapa angkanya. Nah, Kalau buat kami di Telkomsel sebenarnya lebih kepada bagaimana kita mengurangi gap tersebut. Dengan menciptakan talenta-talenta digital. Melalui program-program kita. Mereka ngerti digital. Mereka tahu harus gimana. Mereka bikin sesuatu ideas yang terkait digital. Itu yang kita lakukan,” jelas Andry.