— Tim SAR Gabungan kembali menemukan barang yang diduga kuat berkaitan dengan pencarian speedboat Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda pada Rabu (16/9/2026). Kapal nahas yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut dilaporkan hilang kontak sejak pekan lalu.

Penemuan terbaru berupa lembaran terpal berwarna hijau dievakuasi oleh awak KN SAR Tetuka saat melakukan operasi penyisiran di Sektor H pada pukul 11.42 WIB. Berdasarkan catatan jurnal informasi di Posko SAR Basarnas Pantai Marina, Carita, Pandeglang, Banten, penyisiran di sektor tersebut dilakukan secara paralel bersama tiga armada kapal lainnya, yaitu KRI Kerambit, KRI Gilimanuk, dan KN Damaru.

Lembaran terpal hijau tersebut ditemukan mengapung pada titik koordinat 6°1’5,58″ LS dan 105°22’23,286″ BT. Kondisi cuaca saat penemuan dilaporkan cerah berawan dengan kabut tipis, serta jarak pandang sekitar 4,5 meter.

Speedboat Arupadhatu 1 kehilangan kontak setelah bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9/2026). Kapal tersebut disewa oleh rombongan jurnalis untuk melakukan peliputan lapangan terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Memasuki hari kesembilan pencarian, keberadaan bangkai kapal serta delapan penumpang di dalamnya belum ditemukan secara pasti. Tim SAR Gabungan terus memperluas area penyisiran mencakup berbagai sektor perairan Selat Sunda hingga mengarah ke wilayah perairan Bengkulu.

Perairan Selat Sunda memiliki karakteristik gelombang dan arus laut yang dinamis, serta rentan terpengaruh oleh kondisi cuaca ekstrem maupun aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Peliputan jurnalistik di area vulkanik aktif membutuhkan kewaspadaan tinggi serta dukungan armada pelayaran yang memenuhi standar keselamatan maritim.

Peristiwa hilang kontak speedboat Arupadhatu 1 ini menjadi pengingat pentingnya koordinasi navigasi, penyediaan alat keselamatan yang memadai, serta pemantauan cuaca secara real-time dari Badan Meteorologi, Climatology, dan Geofisika (BMKG) sebelum melakukan pelayaran di kawasan rawan bencana. Sinergi antara armada Basarnas, TNI AL, dan potensi SAR daerah terus dimaksimalkan untuk menuntaskan operasi pencarian korban dan kapal.