DailyFX.ID — JAKARTA – Co-founder AirAsia, Tony Fernandes, menegaskan bahwa maskapainya tidak pernah meminta bantuan penyelamatan atau bailout dari Pemerintah Malaysia. Klarifikasi ini disampaikan di tengah sorotan terhadap kondisi keuangan perusahaan penerbangan berbiaya rendah tersebut.
Fernandes menyatakan bahwa AirAsia berada dalam posisi yang nyaman untuk memenuhi kebutuhan pendanaannya. Ia menambahkan, perusahaan memiliki likuiditas lebih dari 1 miliar ringgit atau sekitar Rp 4,35 triliun. “Jadi kami baik-baik saja. Kami masih bisa bertahan dan semuanya baik-baik saja,” kata Fernandes seperti dikutip dari Antara, Sabtu (19/9/2026).
Lebih lanjut, ia juga memastikan tidak ada pembicaraan antara AirAsia dengan Pemerintah Malaysia mengenai bantuan finansial tersebut. Saat ini, AirAsia sedang dalam proses mencari pembiayaan utang sekitar 1 miliar dolar AS. Selain itu, maskapai ini juga menjajaki penambahan modal saham di Indonesia dan Filipina.
Fernandes menjelaskan bahwa pembiayaan utang yang sedang dicari merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk mendapatkan struktur pendanaan yang lebih baik, termasuk terkait tingkat bunga dan persyaratan yang lebih menguntungkan, bukan untuk memperoleh modal baru. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap laporan media yang menyebutkan Pemerintah Malaysia menghubungi Malaysia Airlines dan Batik Air untuk menyusun skenario antisipasi jika kondisi keuangan AirAsia memburuk.
Meskipun demikian, Fernandes mengakui bahwa kenaikan biaya avtur telah mempengaruhi biaya operasional maskapai. Ia merinci bahwa kuartal II menjadi periode yang sulit karena harga rata-rata jet fuel mencapai 183 dolar AS per barel, meningkat 66 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, ia memperkirakan kondisi tersebut akan membaik seiring dengan penyesuaian tarif yang dilakukan AirAsia untuk mengantisipasi kenaikan biaya bahan bakar.
Di tengah tekanan biaya operasional tersebut, Fernandes menegaskan bahwa tidak ada pesawat AirAsia yang dihentikan operasinya (grounded) akibat gagal bayar. Berdasarkan data per 30 Juni 2026, liabilitas lancar AirAsia tercatat mencapai 18,4 miliar ringgit atau sekitar Rp 80,2 triliun. Saat ini, AirAsia mengoperasikan sekitar 250 pesawat, dengan 10 pesawat lainnya diperkirakan siap beroperasi pada Oktober. Grup tersebut sebelumnya telah mengembalikan 25 pesawat yang lebih tua.
Ikuti DailyFX.ID
